Lelaki Hujan

lekaslah jadi puisi, lelaki hujan
       bayangmu tergenang di jendela lengang

igaumu membasahi malam
denting jam ragu-ragu, tahukah ia
        lambaimu tak sampai kemari

sepi tak beranjak
sepasang kekasih jemu, 
daunkah yang jatuh di atas air
     atau senyum murung
         sepasang kunang kehilangan petang

ke arah entah, lelaki memalingkan wajah
perempuan meremas cemas ujung gaunnya
adakah sisa cumbu sang kekasih, di situ? 

tak ada lagi kata untuk menyambut musim
hujan bukanlah riang yang tertunda
         luput seperti dirimu, seperti senja
yang tak sepakat pada nasib kita

berteduhlah di rumahmu
sebab aku bukan payung
untuk hujan semalaman

Advertisements

Ada Hari

Ada hari setelah malam ini
yang tak pernah kita sepakati
entah di bulan keberapa
kita sempat berjanji
membiarkan duka menderas
dalam puisi

kemana kita akan pergi
saat tubuh tak mampu sembunyi
dari gerimis
saat percakapan hanya igauan
yang tak habis-habis

ke arah mana tangan kita membuat bayang
ke jalan mana kaki kita menapak jejak

ada hari setelah malam ini
yang tak pernah kita sepakati
kita mengikat janji sendiri-sendiri
pada batu di pinggir tanjung
pada suara air
dan kemalangan
yang selalu jadi mimpi buruk

biarkan hujan mengering
dalam atap kecil kita
dalam puisi dan sedikit nasib baik
mungkin di bulan ketujuh atau kesepuluh
puisi jadi percakapan
yang tak habis – habis

Kamar

Petang datang, lari – lari kecil
bintang yang riang
lelah singgah di mimpi setengah larut
jam pertama lewat tanpa selimut

dinding mengulang ragu
kata kata mengawang hingga pojok ruang,
di bawah meja, di atas lemari, dan sebuah kursi

kamar ini menyimpan cuacanya sendiri
menandai hari
dengan butir debu
dengan laba – laba dan jaring kelabunya
serta dengung nyamuk yang terperangkap sia – sia

akan datang langkah lain
menghibur laparmu dengan suara gitar
meski senarnya sumbang
lagu – lagu mencatat setiap botol wiski
di malam minggu

kamar ini mendekap dirimu
antara yang silam
yang terlupakan
yang mungkin tak lagi datang

 

Dimuat di Kompas

Yang Terhening

 

                     : vi

Biarkan ia mencoba menemukanmu. Di setiap penghujung minggu, tanpa satupun layangan terulur, tanpa seruan riang yang menggema berulang, seperti yang biasa ia dengarkan. Mungkin hari hanya menyisakan sedikit kenangan tentang wajahmu yang tertidur di bahunya. Kau akan tahu, sentuhan tanganmu menggenang lembut di rambutnya. Membiarkan ia sejenak rindu pada garis tipis bibirmu. Selalu ada tempat untuknya sekejap lelap, memimpikan sebuah pertemuan atau hanya sekilas genggaman yang tak nyata. Ia akan tersenyum menyadari betapa cepat malam terlewat.

Jika kau selalu punya waktu memandangi gambar dirinya, ia hanya sempat mengingat bau tubuhmu ketika menyeka peluh di keningnya. Siang yang tak peduli, udara yang selalu menggoda untuk berteduh. Tapi, ia tak pernah abai pada gerak matahari. Meski tak pernah sempat menengadah, ia mengerti cahaya telah luluh jadi hari hari yang sebentar lagi akan selesai. Ia pun tersenyum lagi. Sambil menikmati biji kuaci terakhir, ia senandungkan lagu lagu cinta yang sederhana.

Kau mengakrabi tiap detik seperti gadis kecil dan bonekanya. Seakan tak ingin kehilangan satu pun cerita untuk kausampaikan padanya. Sementara, dinding kamarmu kehilangan warna, jadi rumah laba laba yang terusir dari kawanannya. Kau memilih diam di pojok taman. Menyaksikan bayangan sendiri di atas kolam. Kau biarkan ujung syalmu menyentuh air biru.

Bukalah jendela dan lihat, malam begitu dekat dengan wajahmu. Maka biarkan dirimu berlarian di setiap taman. Meniru gerak lugu kupu kupu yang tertangkap tanganmu, atau memainkan daun putri malu di sela sela akasia. Kau akan melihat burung burung yang seharian mengitari angkasa, atau menerka cuaca di balik langit biru itu. Tak usah katakan kau lupa jalan pulang, atau denah rumahku menghilang, jika kau pulang larut malam. Dekaplah tiap riang yang kaudambakan, bukan untuk melupakannya. Kau akan semakin paham, ia memimpikan senyum ranummu yang menawan dirinya untuk selalu mengingat hari itu.  
 
Di hari yang lain, mungkin kau akan menerima kabar ia telah datang dari seberang. Dengan cara yang sama ia mendekapmu. Dengan hangat yang sama, ia menyentuhmu. Menemukan bagian terhening dari seluruh kesepianmu.

Sua III

Seringkali kubayangkan diriku adalah waktu. Kau, kelana muda yang menyusuri jalanan dan lorong-lorong dalam ingatan dan masa silam. Biar kubacakan cerita tentang sepasang burung jatuh cinta di menara suci kota Paris. Dimana arca penuh lumut mengikrarkan cumbuan dalam diam. Keheningan milik waktu dan mungkin juga Tuhan.

Sedang puisi lahir dari peluh dan keluh. Jalanan kata-kata yang mempertemukan kita. Nyanyikanlah sajak-sajakku yang belum selesai. Kau pun akan tahu matahari sampai juga pada halaman terakhir yang kujanjikan. Riuh arus yang bermuara di hati. Sungai kecil para kelana. Langit yang mendung, layangan yang jauh. Tubuhmu, tubuhku milik waktu

Wajah di depan cermin seperti dirimu dan cahaya pagi telanjur mengekalkannya dalam kepedihan. Segalanya bagimu terlampau jenuh. Cuma sebentuk jejak yang ditinggalkan perempuan. Kau tahu, ratusan cahaya telah datang menawarkan pagi dan sebentuk mimpi. Namun, belum dapat kubuka semua pintu. Karena cahaya yang lahir dari nyanyianmu telanjur mendahului segala cahaya.

Jadi, darimanakah segalanya bermula? Kupu-kupu yang sesat di pangkuan, nyanyian riang yang terlupakan, atau aku yang sendirian…

Lagu Ini

lagu ini embun bening dari hatiku yang terhening, nyanyikanlah,
ketika sayup suara bergelayut mesra dalam hening kita
aku tahu kau meragu entah pada hatiku atau sesuatu di masa lalu
maka lihatlah ke dalam mataku
cahaya kelabu yang sampai pada wajahmu
biar kulukis gerimis hingga ranjangmu tak lagi sesak oleh isak tangis

suara angin menjauh begitu saja
aku sendiri merenungi sunyi yang melintas di kursi ini
melihatmu melambai pada senja
pada remang bayang di seberang jalan

matahari benam sia-sia dalam kolam hijau di matamu
seroja yang sendiri menanti di ujung hari
tak kaudengarkah tangisnya bersimpang dengan tangismu

sungguh, hanya suaramu mengigau di ujung petang
menyelinap semalaman dalam mimpiku yang gelisah

pada siapakah kaulagukan masa lalu, pada siapakah kaubisikkan kenangan

akhirnya, dapatkah kugenggam tanganmu?

Usai Kau Berlalu

sore hari terlampau panjang
untuk aku yang sendirian
tak ada yang tahu
kapan kutinggalkan duka di kursi ini
sebab kelabunya digurat waktu

tahukah kau, hujan yang datang pagi tadi
mencari muara di keningku
sebab laut, katanya, cuma menampung keluh
seorang dewi
yang ditinggalkan Baruna
bercinta dengan gadis nelayan

selalu ada yang luput
tak ada lagi yang berkabar tentang musim panen
di kebun anggur
atau rumbai warna warni
gaun para gadis di ujung pantai

segalanya lebur dalam kelabu yang pilu
begitu juga aku
yang tak sempat mengenggam tanganmu

mungkinkah embun terakhir pagi ini
akan sampai pada seroja yang sendiri