What If by Kate Winslet

Here I stand alone
With this weight upon my heart
And it will not go away

In my head, I keep on looking back
Right back to the start
Wondering what it was that made you change

Well, I tried, but I had to draw the line
And still this question keeps on spinning in my mind

What if I had never let you go?
Would you be the man I used to know?
If I’d stayed, if you’d tried
If we could only turn back time
But I guess we’ll never know

Many roads to take
Some to joy, some to heart-ache
Anyone can lose their way

And if I said that we could turn it back
Right back to the start
Would you take the chance and make the change?

Do you think how it would have been sometimes?
Do you pray that I’d never left your side?

What if I had never let you go?
Would you be the man I used to know?
If I’d stayed, if you’d tried
If we could only turn back time
But I guess we’ll never know

If only we could turn the hands of time
If I could take you back would you still be mine

‘Cos I tried, but I had to draw the line
And still this question keeps on spinning in my mind

What if I had never let you go?
Would you be the man I used to know?
What if I had never walked away?
‘Cos I still love you more than I can say?

If I’d stayed, if you’d tried
If we could only turn back time
But I guess we’ll never know
We’ll never know

Songwriters
MARCHELLO, ANTHONY /

tentang persatuan dua manusia

takdir begitu penuh rahasia. setiap perjalanan seperti rangkaian teka teki, mengejutkan, menakjubkan.

seperti cinta.

bagaimana mendefinisikannya?

bagaimana memahaminya?

seperti luka.

bagaimana menjelaskannya?

bagaimana menyembuhkannya?

seperti pertemuan.

seperti persatuan.

hidupku terjalin denganmu. hatiku terikat padamu. cintaku bermuara pada kasihmu.

apakah kebahagiaan?

apakah harapan?

Setelah lama tak bersua

Jika mimpi adalah kenyataan yang lain, barangkali aku ingin lelap selamanya.

Jika hidup adalah tentang merayakan kebebasan memilih, aku merasa seperti seoonggok mayat. hidupku kilauan takdir, pilihanku, putusan nasib..

Jika suatu hari aku hidup kembali, ijinkan aku selalu bersama denganmu, meski hanya menjadi kursi di beranda, tempatmu melepas lelah…

buku kumpulan cerpen ‘pohon keinginan’

SINOPSIS BUKU KUMPULAN CERPEN

Buku kumpulan cerpen yang terdiri atas 24 karya ini boleh dikata merupakan satu bentuk pergolakan batin penulis yang lahir, tumbuh dan ‘meminjam’ hidup pada pulau Bali. Pulau yang dijuluki The Island of God ini tidak hanya semata tanah kelahiran yang penuh harapan tetapi juga sebuah tempat istimewa yang dipuja-puja seluruh dunia. Sayangnya, keistimewaan itu pada akhirnya melahirkan pertentangan tersendiri –yang tidak dirasakan sebagian orang –antara tradisi dan modernism. Pariwisata yang berkembang demikian pesat bukan hanya membawa ‘anugrah’ materi pada masyarakatnya melainkan juga menanamkan budaya baru, mengenalkan gaya hidup tertentu, yang tidak seluruhnya baik. Buku ini juga mewakili pemikiran-pemikiran penulis sebagai seorang perempuan, bagaimana memperjuangkan kehidupannya di tengah desakan iklim patriarchal. Selain itu, sebagian cerpen ini juga mengisahkan kehidupan penulis sebagai seorang perawat, terutama ketika bertugas di rumah sakit jiwa.

Cerpen berjudul ‘Pewaris’ menggambarkan secara tersurat bagaimana seorang gadis dipaksa memilih meneruskan menjadi penari meski tak bekecukupan materi dan tetap tinggal di desa, atau pergi ke kota besar, meneruskan pendidikan, mendapatkan pekerjaan dan mencari uang sebanyak-banyaknya.

Fenomena yang marak belakangan ini adalah banyaknya orang-orang yang berbondong-bondong menjual tanah warisannya hanya untuk memenuhi gaya hidup. Seperti pada cerpen ‘Biji Jambu Terakhir’. Hedonism telah menjadi momok yang menakutkan. Segala cara dilakukan untuk sekadar mengikuti trend dan mode. Pada akhirnya penduduk asli suatu daerah bisa saja menjadi terasing di kampung halamannya sendiri karena semua tanah warisan dijual tanpa memperhitungkan nasib anak cucu di masa mendatang.

Selain kisah-kisah tentang Bali beserta pergolakannya, buku ini juga memuat banyak cerpen dengan tema umum seputar perempuan. Cerpen ‘Ibuku’, kisah seorang anak yang akhirnya mengetahui bahwa Ibunya adalah korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Beberapa cerpen seperti ‘Kepada Kenangan’, ‘Mimpi’, ‘Sakitku’, ‘Ambang Senja’, terinspirasi dari segala kejadian yang penulis cermati ketika bekerja di rumah sakit. Kematian memang tidak terelakkan dari kehidupan manusia. Namun, tiap orang selalu menghadapi hal itu dengan cara yang berbeda-beda. Kisah itulah yang coba dituangkan dalam buku kumpulan cerpen ini. “Prasangka”, ‘Kabut Dalam Pikiran’, ‘Jatuh Cinta pada Sebuah Kursi’, ‘Kepala yang Bersuara’, ‘Kunang-kunang’, ‘Sardi’ adalah cerpen yang terinspirasi dari kehidupan pasien di Rumah Sakit Jiwa.

Salah satu cerpen yang berjudul “Malam Penghabisan”, mengisahkan tentang seorang anak muda yang menjadi korban sejarah. Keluarganya hancur karena peristiwa G/30 S/PKI dan ia sendiri harus beradu dengan maut pada kerusuhan Mei 1998.

Selamat membaca…

bertahan…

Sudahlah, aku tak perlu menuliskan sesuatu tentang keindahan, sebab di sekelilingku kicau burung menyanyi sendu, belalang tua terbang lirih, seakan menuju neraka paling sedih.

Aku tak tahu sejak kapan tubuhku kaku, berbaring bosan, menatap matahari yang bersinar. Seandainya kau di sini, kau pasti akan menggenggam tanganku, membawaku pergi, karena aku tak sanggup lagi bertahan…