Rainia’s Poems

All posts tagged Rainia’s Poems

Mengenangmu

Published November 7, 2008 by rastiti

dalam genang senja
gerimis jatuh pada kamelia yang sendiri

tangan letih di atas kertas
kata-kata jadi senyap yang memburu,
       waktu atau aku yang menunggu?                                                

pada ilalang
terselip warna hijau matamu
             kelabu, saat kita abai pada waktu
dan pada dinding biru kamarku
         wajahmu menjelma kelabu

ya, simpan senyummu
          dalam cerminku yang sendiri

di mana tangis yang diam bersimpang
sementara hujan menghapusnya di seberang jalan
sekali lagi, kusaksikan matahari
cuma kilas sepi
    cuma isyarat singkat untuk bergegas pergi

di ujung petang
hanya bulan berkirim kabar
wajah sendiri tergenang di dasar kolam
sampai juga angin kemari

berbisiklah, aku tau kau di situ!

Ketika Mengenang Sebuah Pertemuan

Published November 7, 2008 by rastiti

ulang kali kutulis sebuah nama
di hambur pasir
namun, gelombang memalingkannya
ke arah yang asing, arah yang jauh
  yang tak pasti kemana desirnya

rumput kala petang
atau ilalang di seberang musim
yang membuatku berjarak dengan waktu
sementara
daun yang jatuh di air
meninggalkan genang bayang
sekilas seriang bintang

mungkin, bayang itu adalah kupu-kupu yang sepasang
berucap cemas separuh harap
musim gugur kali ini menyisakan bunga lain untuk mereka
mungkin juga aku
menunggu hujan september ini
 biar sampai isak sajak yang basah
  di musim semimu

mengapa hanya suara kekasih di ujung petang
tahukah kau
langit tak menyampaikan apapun padaku

Lelaki Hujan

Published October 30, 2008 by rastiti

lekaslah jadi puisi, lelaki hujan
       bayangmu tergenang di jendela lengang

igaumu membasahi malam
denting jam ragu-ragu, tahukah ia
        lambaimu tak sampai kemari

sepi tak beranjak
sepasang kekasih jemu, 
daunkah yang jatuh di atas air
     atau senyum murung
         sepasang kunang kehilangan petang

ke arah entah, lelaki memalingkan wajah
perempuan meremas cemas ujung gaunnya
adakah sisa cumbu sang kekasih, di situ? 

tak ada lagi kata untuk menyambut musim
hujan bukanlah riang yang tertunda
         luput seperti dirimu, seperti senja
yang tak sepakat pada nasib kita

berteduhlah di rumahmu
sebab aku bukan payung
untuk hujan semalaman

Ada Hari

Published October 30, 2008 by rastiti

Ada hari setelah malam ini
yang tak pernah kita sepakati
entah di bulan keberapa
kita sempat berjanji
membiarkan duka menderas
dalam puisi

kemana kita akan pergi
saat tubuh tak mampu sembunyi
dari gerimis
saat percakapan hanya igauan
yang tak habis-habis

ke arah mana tangan kita membuat bayang
ke jalan mana kaki kita menapak jejak

ada hari setelah malam ini
yang tak pernah kita sepakati
kita mengikat janji sendiri-sendiri
pada batu di pinggir tanjung
pada suara air
dan kemalangan
yang selalu jadi mimpi buruk

biarkan hujan mengering
dalam atap kecil kita
dalam puisi dan sedikit nasib baik
mungkin di bulan ketujuh atau kesepuluh
puisi jadi percakapan
yang tak habis – habis

Kamar

Published October 27, 2008 by rastiti

Petang datang, lari – lari kecil
bintang yang riang
lelah singgah di mimpi setengah larut
jam pertama lewat tanpa selimut

dinding mengulang ragu
kata kata mengawang hingga pojok ruang,
di bawah meja, di atas lemari, dan sebuah kursi

kamar ini menyimpan cuacanya sendiri
menandai hari
dengan butir debu
dengan laba – laba dan jaring kelabunya
serta dengung nyamuk yang terperangkap sia – sia

akan datang langkah lain
menghibur laparmu dengan suara gitar
meski senarnya sumbang
lagu – lagu mencatat setiap botol wiski
di malam minggu

kamar ini mendekap dirimu
antara yang silam
yang terlupakan
yang mungkin tak lagi datang

 

Dimuat di Kompas

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers