coretan lekas

All posts tagged coretan lekas

Yang Terhening

Published October 27, 2008 by rastiti

 

                     : vi

Biarkan ia mencoba menemukanmu. Di setiap penghujung minggu, tanpa satupun layangan terulur, tanpa seruan riang yang menggema berulang, seperti yang biasa ia dengarkan. Mungkin hari hanya menyisakan sedikit kenangan tentang wajahmu yang tertidur di bahunya. Kau akan tahu, sentuhan tanganmu menggenang lembut di rambutnya. Membiarkan ia sejenak rindu pada garis tipis bibirmu. Selalu ada tempat untuknya sekejap lelap, memimpikan sebuah pertemuan atau hanya sekilas genggaman yang tak nyata. Ia akan tersenyum menyadari betapa cepat malam terlewat.

Jika kau selalu punya waktu memandangi gambar dirinya, ia hanya sempat mengingat bau tubuhmu ketika menyeka peluh di keningnya. Siang yang tak peduli, udara yang selalu menggoda untuk berteduh. Tapi, ia tak pernah abai pada gerak matahari. Meski tak pernah sempat menengadah, ia mengerti cahaya telah luluh jadi hari hari yang sebentar lagi akan selesai. Ia pun tersenyum lagi. Sambil menikmati biji kuaci terakhir, ia senandungkan lagu lagu cinta yang sederhana.

Kau mengakrabi tiap detik seperti gadis kecil dan bonekanya. Seakan tak ingin kehilangan satu pun cerita untuk kausampaikan padanya. Sementara, dinding kamarmu kehilangan warna, jadi rumah laba laba yang terusir dari kawanannya. Kau memilih diam di pojok taman. Menyaksikan bayangan sendiri di atas kolam. Kau biarkan ujung syalmu menyentuh air biru.

Bukalah jendela dan lihat, malam begitu dekat dengan wajahmu. Maka biarkan dirimu berlarian di setiap taman. Meniru gerak lugu kupu kupu yang tertangkap tanganmu, atau memainkan daun putri malu di sela sela akasia. Kau akan melihat burung burung yang seharian mengitari angkasa, atau menerka cuaca di balik langit biru itu. Tak usah katakan kau lupa jalan pulang, atau denah rumahku menghilang, jika kau pulang larut malam. Dekaplah tiap riang yang kaudambakan, bukan untuk melupakannya. Kau akan semakin paham, ia memimpikan senyum ranummu yang menawan dirinya untuk selalu mengingat hari itu.  
 
Di hari yang lain, mungkin kau akan menerima kabar ia telah datang dari seberang. Dengan cara yang sama ia mendekapmu. Dengan hangat yang sama, ia menyentuhmu. Menemukan bagian terhening dari seluruh kesepianmu.

Sua III

Published October 27, 2008 by rastiti

Seringkali kubayangkan diriku adalah waktu. Kau, kelana muda yang menyusuri jalanan dan lorong-lorong dalam ingatan dan masa silam. Biar kubacakan cerita tentang sepasang burung jatuh cinta di menara suci kota Paris. Dimana arca penuh lumut mengikrarkan cumbuan dalam diam. Keheningan milik waktu dan mungkin juga Tuhan.

Sedang puisi lahir dari peluh dan keluh. Jalanan kata-kata yang mempertemukan kita. Nyanyikanlah sajak-sajakku yang belum selesai. Kau pun akan tahu matahari sampai juga pada halaman terakhir yang kujanjikan. Riuh arus yang bermuara di hati. Sungai kecil para kelana. Langit yang mendung, layangan yang jauh. Tubuhmu, tubuhku milik waktu

Wajah di depan cermin seperti dirimu dan cahaya pagi telanjur mengekalkannya dalam kepedihan. Segalanya bagimu terlampau jenuh. Cuma sebentuk jejak yang ditinggalkan perempuan. Kau tahu, ratusan cahaya telah datang menawarkan pagi dan sebentuk mimpi. Namun, belum dapat kubuka semua pintu. Karena cahaya yang lahir dari nyanyianmu telanjur mendahului segala cahaya.

Jadi, darimanakah segalanya bermula? Kupu-kupu yang sesat di pangkuan, nyanyian riang yang terlupakan, atau aku yang sendirian…

Lagu Ini

Published October 27, 2008 by rastiti

lagu ini embun bening dari hatiku yang terhening, nyanyikanlah,
ketika sayup suara bergelayut mesra dalam hening kita
aku tahu kau meragu entah pada hatiku atau sesuatu di masa lalu
maka lihatlah ke dalam mataku
cahaya kelabu yang sampai pada wajahmu
biar kulukis gerimis hingga ranjangmu tak lagi sesak oleh isak tangis

suara angin menjauh begitu saja
aku sendiri merenungi sunyi yang melintas di kursi ini
melihatmu melambai pada senja
pada remang bayang di seberang jalan

matahari benam sia-sia dalam kolam hijau di matamu
seroja yang sendiri menanti di ujung hari
tak kaudengarkah tangisnya bersimpang dengan tangismu

sungguh, hanya suaramu mengigau di ujung petang
menyelinap semalaman dalam mimpiku yang gelisah

pada siapakah kaulagukan masa lalu, pada siapakah kaubisikkan kenangan

akhirnya, dapatkah kugenggam tanganmu?

keajaiban

Published October 26, 2008 by rastiti

Keajaiban

tiap hari di sudut sudut kota besar,

dalam lindungan lampu jalan yang temaram,

selalu ada suara suara rendah,

yang memohon mohon keajaiban.

Barangkali kita memang tak akan pernah tahu kapan kiranya keajaiban datang membukakan jalan untuk masa depan. Seringkali kita mengharapkannya hadir, berulang mengiringi langkah – langkah. Bahkan ada kalanya, dengan putus asa kita merasa tak ada satupun keajaiban di dunia. Sementara waktu terus saja menunjukkan kuasanya, melintas bebas di setiap napas manusia. Bagaimana kiranya mengartikan keajaiban itu. Bagaimana menggambarkan lalu merangkaikannya dalam tiap peristiwa di kehidupan ini. Apakah memang akan selalu ada keajaiban yang sedianya mengantarkan kita pada hari depan yang diimpikan.

Ada yang mengatakan dunia tercipta karena keajaiban. Alam semesta, manusia, dan hal – hal lainnya, yang hingga kini masih coba kita cari muasalnya. Keajaiban seringkali menjadi jawaban sementara, tapi sekaligus menimbulkan sebuah prasangka bahwa penciptaan sukar dijelaskan dengan ilmu fisika atau kimia, dengan kata lain, di luar batas akal manusia. Ini mengisyaratkan bahwa tidak mudah menerka – nerka mengapa keajaiban tak pernah lepas dari hari hari kita.

Ada pula orang yang mengharap keinginannya terwujud hanya dalam sekali ucap. Bergantung sepenuhnya pada keajaiban, yang boleh jadi, serta merta mengubah hidupnya. Alangkah bahagia mereka, membayangkan segalanya berjalan seperti apa yang dipikirkan. Hari hari indah penuh suka cita, meja makan dengan santapan ala raja, ranjang lembut dengan selimut sutra, taman bunga yang menghadirkan musim semi kota Barcelona. Semuanya seakan bisa tercapai hanya dengan keajaiban yang mereka percaya.

Namun, tidakkah keajaiban menjadi pertanda keniscayaan, kebahagiaan yang hanya ada dalam khayal. Setiap orang yang membayangkan segala keindahan, tak pernah sekalipun merasakannya dalam kehidupan nyata. Mereka hanya mampu bermimpi, suatu hari akan ada sebuah keajaiban dimana mereka dapat mewujudkan segala angannya. Keyakinan pada keajaiban menjelma suara suara yang tak pernah lekang, mendengung dalam telinga dan mempengaruhi pikiran mereka, memaksa terus berangan tentang hari depan yang sesungguhnya tak akan pernah dilakonkan.

Keajaiban menjadi sebuah doa. Keajaiban menjadi penantian yang berharga. Kita pun semakin percaya keajaiban merupakan pertanda kebaikan. Di dalamnya kita mendapati gairah untuk memulai yang baru dan meninggalkan cara cara lama. Begitulah ia. Memantapkan perubahan, memunculkan pergerakan baru yang mengarah pada hari depan impian.

Sesungguhnya ada hal yang terlalu rahasia di dalam keajaiban. Rahasia yang tak terungkap meski peradaban telah lama tumbuh dan berkembang. Mungkinkah dengan menyingkap sesuatu di baliknya, di masa depan, kita bisa menjelaskan segala tanya tentang kehidupan, darimana dan mau kemana kita. Tapi dapatkah keajaiban mengubah kesalahan kecil di masa lalu, sehingga harapan bahwa hari ini adalah hari yang sempurna, selalu sempurna, bisa terlaksana. Entahlah.

30 Agustus

Published October 25, 2008 by rastiti

Pernahkah kau merasa dunia seakan tak punya ruang untuk kesepian kita yang selalu sama. Padahal bunga bunga mekar menebarkan wangi yang berbeda. Begitu pula serangga yang berjalan beriringan di dinding kamar kita, selalu meninggalkan jejak yang lain. Kadangkala aku menjadi tak percaya segalanya. Benarkah ia rasa bahagia, setelah seharian bersenda gurau dengan waktu, atau hawa dingin yang menjalar bersama hujan, dan kesedihan karena seseorang pergi tanpa kabar, tanpa ucapan selamat tinggal. Mungkinkah itu rasa hampa yang tak mampu kujelaskan bahkan kepadamu.

Suatu kali kulihat pelangi muncul di ufuk timur, gerimis tipis jatuh di wajahku. Tanpa payung kususuri jalanan yang basah. Langit mendung berwarna kelabu menimbulkan perasaan murung yang tak menentu. Daun daun kamboja dan akasia dipenuhi tetes tetes air yang meluncur ke tanah begitu angin berhembus dari arah barat daya, meninggalkan rasa dingin di kulitku. Sementara bayangmu seakan menyusuri jalanan rumahku, menyiratkan masa yang asing.

Ingatkah kau, kita pernah duduk di situ, di kursi kayu yang mengelupas catnya, kita bergumul dengan angin, merasa tak kenal hawa dingin. Kusentuh rajut benang di baju birumu dan kutemukan warna lain, seperti kulit ibuku. Maukah kau bercerita tentang hari kemarin, atau tentang sekuntum mawar yang ingin hujan. Biar waktu menjauh dari pelukan kita. Biar burung burung menari sendiri dalam alunan angin di pucuk cemara. Terbang ke taman taman kota tua, terusir riuh lampu jalanan.

Kita tak akan pernah tahu kapan masa silam datang bagai hantu, menyamar bayangan senja di cermin, penuh warna jingga yang sekilas menggoda. Meski demikian, hari tetap saja seperti tangkai bunga yang tak kunjung lepas, pohon yang tak pernah tumbang, bahkan oleh gelombang.

Andai waktu itu aku datang dan duduk semeja denganmu, anggur yang tumpah di gaunku tak akan kehilangan warna birunya. Sedang bibirmu selalu ingin basah, bukan dari tubuh atau tanganku, bukan dari hujan atau embun dedaunan. Kau hanya berkata, dunia tak menyisakan ruang untuk kesepian kita.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers