Rainia’s Poems

All posts in the Rainia’s Poems category

Jalan AHmad YAni

Published April 6, 2009 by rastiti

Di lindung langit yang tak mau murung

Kubiarkan sendiri

Langkah kaki di lepas hari

Burung-burung pencemburu melewatiku sekilas lalu

Ke mana arah bayangmu

Yang tak juga jemu

Meniru gerak lugu kupu-kupu

Lalu wajahmu

Begitu saja : Genang kenangan

yang dibawa burung-burung itu

armada

Menyusup sunyi

ke dalam celah mimpi seorang gadis

Dengan mawar setengah layu

Di kupingnya

Di batas mataku

Jalan ini seolah tak selesai

Tiap tikungan seperti gua purba

yang merindukan cahaya

Tiap pejalan seperti kelana

yang merindukan kampung halaman

seperti laba-laba yang terusir kawanannya

Mau kemana kita?

Lampu kuning teduh menyala bergantian

Tapi malam selalu datang

Sebelum usai kita akrabi jalan ini

Tak ada rambu penanda, untukku atau untukmu

Di lindung langit yang tak mau murung

Jalanan ini entah berujung di mana

Puisi ini menjadi nominator Singa Ambara Raja  Award 2009

Sebuah Taman

Published March 20, 2009 by rastiti

Ada yang membayang di ujung jalan ini
sesuatu yang tak selesai
berdesir
bukan angin yang semilir
bukan pula gerimis di musim dingin.

Ada sayat hari yang tertinggal di sini
Sepasang wajah berbagi tatap
mencari genang cahaya
di antara kenangan
yang melintas bersilangan.

Ada kau dan aku di sini
mengunjungi setiap taman
menciumi aneka rupa bunga
tanpa tahu
mawar mana yang rela menanggalkan durinya
untuk seekor kupu-kupu sesat
yang kehilangan kekasihnya

Adakah matamu yang menatapku?
Menghujaniku dengan haru pilu penuh sendu
saat aku terjaga oleh mimpi
tentang malaikat bersayap kelabu
yang mirip dirimu, mirip kupu-kupu itu

Andai saja tiap pelukan terulang
tiap ciuman abadi dalam keheningan
maka kau dan aku
cukup punya sebuah taman
untuk satu impian.

Burung Kecil

Published December 5, 2008 by rastiti

Burung di langit kecil
Untukkukah ciuman bimbang di paruhmu?

Siulmu cuma sampai atap
Dnding kamarku tak ingin gema yang dulu

Sayap sayap mu kukumpulkan satu satu
Ingin jadi lukisan
          atau sekadar hiasan
Untuk hati di lengang hari

Datanglah sebelum petang
Sebelum habis layangan terulur
Sebab aku harus tidur

 

Dimuat di Kompas

Sajak Kelana

Published December 5, 2008 by rastiti

Kau adalah november
Meniupkan hari yang penuh mimpi

Tak perlu ada ragu
Biar kedua tanganmu bersisian
Menjelang perjalanan

Kapal telah disiapkan
Laut memburu menawarkan ombak
Bergerak tanpa layar atau peta jalan
 Tak ada beda

Semalaman dengan kartu kartu
Hanya hujan di luar yang tahu
Lapar tak lagi cukup menahan waktu

Sisihkan saja tidur saat kembali
Penuhi lagi cerita untuk esok hari

 

Dimuat di Kompas

Aku Melihatmu

Published December 5, 2008 by rastiti

Aku melihatmu di jalan jalan
di setiap papan perhentian
Antara bus kota
dan nyanyian penyanyi gelandang

Kota ini penuh hujan
Serintik di rambut penarik becak
Serinai di punggungnya
bercampur peluh

Lampu berubah merah
anak anak berlarian menawarkan koran
sedikit sayat sakit terkulum senyum simpulnya
Aku melihatmu menawarkan manisan
namun mereka berlalu
dengan segenggam koin bergambar wajahmu

Biarkan payung mereka tertutup
Kita bersama menari
Sebelum loket terbuka

Aku akan kembali ke kota ini
Bersamamu, menyaksikan pelangi
mendengar tawa anak anak lagi

 

Dimuat di Kompas

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers