Karya Victor Hugo
Sejak aku menyentuhkan bibirku pada pialamu, manisku,
Sejak aku wajah pucatku rebah di antara kedua tanganmu,
Sejak aku mengetahui jiwamu, dengan semua mekarnya,
Lalu semua wewangian hilang, terkubur dalam keteduhan;
Sejak diberikan kepadaku untuk mendengar satu kebahagiaan,
Kata-kata di hatimu mengungkapkan semua misterinya,
Sejak aku melihatmu menangis, dan sejak aku melihatmu tersenyum,
Bibirku menyentuh bibirmu, dan matamu menatap mataku;
Sejak aku tahu sepintas dan sekilas di atas keningku,
Sebuah cahaya, satu cahaya, bintangmu, menyelubungiku selalu,
Sejak aku merasakan kegagalan, dalam alur kehidupanku,
Pada satu kelopak mawar yang dipetik dari mawar di hari-harimu;
Sekarang aku berani untuk berkata kepada jam demi jam yang cepat berlalu,
Lewatlah, lewatlah di jalanmu, karena aku tumbuh tak pernah menua,
Berlayarlah sampai ketakberhinggaan kegelapan dengan semua bungamu yang pudar,
Satu mawar yang tak satu pun mungkin terpetik, dalam hatiku aku bertahan.
Sayap terbangmu mungkin menghantam, tetapi mereka tidak pernah mampu menumpahkan
piala yang dipenuhi cinta, dari mana bibirku basah karenanya;
Hatiku memiliki jauh lebih banyak api daripada kau memiliki embun beku untuk mendinginkan,
Jiwaku lebih banyak cinta daripada kau bisa memaksa jiwaku untuk lupa.