change agent

All posts in the change agent category

celoteh

Published August 1, 2011 by rastiti

hingga saat ini saya masih mencoba memahami mengapa ada perpisahan yang kemudian menyisakan kepedihan yang mendalam. ketika kenangan-kenangan manis selama bertahun-tahun itu justru menjadi sesuatu yang getir, yang mewujud dalam perasaan sendiri, sepi, dan hampa.

saya pernah patah hati tapi satu peristiwa bisa mengubah segala kepahitan, dan membuat saya sadar bahwa pintu kebahagian itu telah terbuka.

tapi saya merasa sungguh egois jika kemudian ketika kebahagiaan itu telah ada dalam genggaman saya abai pada sesuatu yang tertinggal di masa lalu.

bulan dan tahun lewat, lekas sekali, hanya menyisakan fragmen-fragmen kisahan tertentu yang apik tersembunyi. dalam sekian waktu itu saya merasa pernah menjadi bagian itu, bagian yang hilang, the lost side. sedang peristiwa sesungguhnya adalah bayangan-bayangan peristiwa yang masih gegap gempita dalam diri–yang akhirnya kini sendu menjadi sesuatu yang melulu muncul dalam ingatan.

ingin berkata setiap hari setiap waktu untuk kepiluan itu bahwa sesuatu yang luar biasa hebatnya tengah menunggu di satu sudut, menunggu untuk dibuka. perempuan yang hebat, yang tangguh, yang padanya kekuatan cinta itu ada, kesetiaan yang senyatanya itu miliknya.

lihatlah, bukan mawar saja yang indah, tapi juga krisan atau tulip. lihat saja betapa sakura atau peoni pernah menaklukkan waktu untuk bersetia. maka, raihlah kuntum-kuntum yang penuh gelora kesegaran itu. maka mawar akan kau lihat sebagai mawar yang indahnya bukan keabadian. mawar itu hanya abadi ketika kenangan muncul menyembul dari sebuah gambar atau tulisan.

DAYA ‘JUANG’ KARYA

Published June 12, 2011 by rastiti

Oleh : Ni Putu Rastiti

Disampaikan dalam Bali Emerging Festival 2011

Sudah seharusnya penulis memiliki keterlibatan dengan dinamika kehidupan masyarakat beserta problematikanya. Keterlibatan ini mestilah nampak dalam karya-karya sastra, entah itu puisi, cerpen, esai, ataupun novel. Lebih jauh, perasaan terlibat boleh jadi menumbuhkan rasa peka penulis yang muaranya tentu saja inspirasi baru bagi karya-karya selanjutnya. Dalam hemat saya, pergulatan kreatif itu tidak berhenti sampai di situ. Karya sastra mutakhir dan dikenang di tiap zaman bukan soal pencapaian estetik yang mendalam melainkan daya ‘juangnya’ dipandang memberi perubahan bagi public, perubahan ke arah kemajuan, perubahan ke arah penyadaran.

Ada ungkapan “tentara berkekuatan tank dan bedil, sedangkan kekuatan penulis pada bahasa”. Wiji Tukul pada masanya, ditangkap bahkan tidak pernah kembali ke keluarganya karena apa yang ditulisnya sebagai ekspresi diri dianggap subversive dan berbahaya. Majalah Tempo dan surat kabar lain yang intens melakukan kritisi terhadap pemerintahan di era Orba dibredel, tak punya ruang sama sekali untuk menyiarkan informasi. Namun justru pada masa itu lahir karya-karya mumpuni baik secara teknik berbahasa dan bercerita serta tema yang gencar menyuarakan keinginan rakyat. Rendra dengan puisi pamfletnya tidak hanya menjadi penulis puisi dan actor hebat di masanya tapi juga kerap menuliskan keniradilan pemerintah. Karya Pramoedya lengkap dengan latar hidupnya sebagai tahanan politik di tiga decade pemerintahan tidak hanya dianggap penulis yang ‘membangkang’ dari kezaliman penguasa tapi juga teladan bagi penulis-penulis generasi lanjutannya untuk melakukan olah kreatif yang lebih kaya secara tema juga gaya bahasa.

Dengan demikian terbukti sudah sastra punya kewajiban tersendiri dalam upaya menggapai perubahan yang lebih baik. Lalu, saat ini sudahkan karya sastra menunaikan ‘tugasnya’? Bagaimana tulisan yang ada sekarang ini bisa menjadi ‘tonggak’ perubahan?

Tema Karya : Perkaya Batin atau Unjuk Populer

Bahasa atau kalimat ucap penulis dapat bersifat ekpresif sugestif, tapi tidak menutup kemungkinan penuh kedalaman batin yang kontemplatif. Yasunari Kawabata adalah penulis Jepang yang menampilkan tema-tema absurditas manusia dengan pilihan bahasa yang minimalis dan detail bahkan terkesan introvert. Gabriel Garzia Marques menuliskan tema-tema serupa dengan kalimat yang ekspresif, mengandung banyak sekali kemungkinan bagi pembaca untuk menafsirkan maksudnya. Indonesia pun melahirkan banyak penulis yang karyanya dapat disejajarkan dengan sastrawan tingkat dunia, AA Navis, Pramoedya, dan lain-lain.

Namun belakangan ini muncul kekhawatiran bahwa sastra dianggap terlampau serius dan mulai ditinggalkan oleh anak muda karena tema-tema karya yang penuh nilai itu melulu soal kepahitan hidup, pencarian jati diri yang hakiki, absurditas manusia, perenungan yang mendalam—topik yang jauh dari keseharian anak muda yang menyukai kesenangan serta menjadi eksis/trend dalam pergaulan.

Di sisi lain kemunculan penulis-penulis muda dengan novel teenlitnya yang sangat beraneka, menumbuhkan harapan baru bahwa sastra tidak akan punah. Namun yang menjadi persoalan adalah keseragaman tema yang dihadirkan. Novel teenlit dianggap bukanlah karya sastra sehingga tidak pernah ada perdebatan yang mendalam mengenai potensi penulis-penulis novel jenis ini untuk memajukan sastra itu sendiri. Padahal semangat dan gairah kreatif mereka merupakan modal besar untuk menumbuhkan kecintaan pada dunia tulis menulis—tradisi warisan luhur generasi pendahulu.

Seringkali penulis novel teenlit itu juga dijadikan role model oleh remaja penggemarnya. Mulai dari gaya hidup yang ditawarkan lewat cerita-ceritanya sampai pada cara menyikapi permasalahan seputar persahabatan atau hubungan percintaan. Pendapat yang lebih ekstrim adalah bagaimana mungkin tema-tema cengeng seputar cinta-cintaan anak muda bias jadi penyambung lidah rakyat atau pembawa perubahan. Bukankah saat ini penulis entah tua muda mesti lebih intens mengkritisi keadaan social di  masyarakat. Apa jadinya jika anak muda dijejali kisah-kisah picisan yang tidak merangsang kepekaan dan empati mereka terhadap situasi terkini masyarakat mereka.

Perkara ini kian menjadi-jadi ditambah dengan kecanggihan teknologi yang kian berkembang. Saat ini banyak orang dapat menyalurkan perasaan dan pikirannya secara lebih terbuka dan berani tentang beragam hal melalui blog, twitter, dll—beda sekali pada era Orba—keterbukaan berarti pemberangusan. Di bidang sastra sendiri kualitas karya-karya itu menjadi perdebatan pelik sebab tidak ada system kuratorial yang diakui dalam pempublikasian karya-karya dalam media online yang bejibun jumlahnya.

Dengan demikian beberapa kalangan justru menyimpulkan banyaknya karya tulis fiksi yang dapat diakses dengan mudah tidak memberikan jaminan bahwa perubahan yang baik akan terjadi. Kemungkinan lain yang berkembang justru efek negative yang tidak menguntungkan sama sekali bagi public yang membaca. Bahkan ekses negative ini melaju pada kecenderungan ‘perseteruan’ antara karya yang dipublikasikan secara digital-independen dan cetak-formal. Bukankah perdebatan macam ini justru menghabiskan energy kreatif kita untuk sesuatu yang tak nyata?

Kembali ke soal garapan tema. Pilihan tema ‘ringan’ memang mudah sekali menjadi popular di masyarakat apalagi di kalangan anak-anak muda. Percintaan, hubungan persahabatan, cerita tentang situasi kampus dan sekolah lengkap dengan latar guru/dosen ‘killer’ dapat dicerna secara mudah oleh siapapun. Sedangkan topic menyoal kekerasan hidup, pencarian jati diri yang hakiki, problema kemelaratan menjadi terasingkan alih alih mendapat tempat yang layak di hati pembaca atau setidaknya menjadi semacam bahan renungan.

Anton Chekov, cerpenis luar biasa itu pernah berkata “Penulis bukanlah pembuat manisan, dealer kosmetik, atau penghibur. Dia adalah orang yang telah sadar dan bertanggungjawab menandatangani kontrak dengan-Nya”. Secara lebih gamblang ia menyatakan bahwa proses kreatif menulis atau menjadi seorang penulis adalah mengikat diri dalam suatu hubungan personal dengan Tuhan. Maka itu, menjadi kewajibannya untuk menyiarkan hal-hal tertentu dengan tujuan kebaikan kemanusiaan.

Pendapat yang hamper serupa diserukan oleh Victor Hugo, penulis kenamaan itu,  “Jika seorang penulis menulis hanya untuk menghabiskan waktunya, Anda harus mengistirahat pena dan membuangnya”. Ya, jika saat ini kita menulis hanya untuk menyenangkan diri pribadi, maka baiknya mulai sekarang kita berpikir bagaimana tulisan kita mampu memberi nilai/esensi bagi orang lain.

Lihat saja di era tahun 2000-an Andrea Hirata dengan ‘Lascar Pelangi’ telah menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk berkarya tidak hanya di bidang sastra tetapi juga di bidang lainnya. Perjuangan yang dikisahkan secara apik itu membius remaja untuk tetap mempertahankan mimpinya sekaligus berupaya mewujudkannya. Meskipun novel tersebut memang belum dinominasikan dalam penghargaan sekelas nobel prize tapi kisahan macam ini bias menjadi ‘suntikan’ semangat baru bagi kita semua.

Menjadi penulis adalah pilihan, tapi menulis untuk kebaikan kemanusiaan adalah keharusan.

Kompetisi WEB Kompas MuDa & AQUA

Published February 6, 2011 by rastiti

Berhubung deadline kompetisi web kompas MuDa & AQUA sebentar lagi, berikut saya sharing lagi deh persyaratannya :

  1. Tema : It’s About Us : Air untuk Masa Depan
  2. Peserta : 15 – 22 tahun (pelajar SMA/mahasiswa)
  3. Peserta perseorangan atau tim boleh mengirimkan lebih dari satu alamat web atau blog
  4. Bisa menggunakan domain blog sendiri atau memanfaatkan blog gratisan (wordpress, blogspot dkk)
  5. Disertai kata kunci Kompetisi WEB Kompas MuDa & AQUA
  6. Penilaian meliputi kualitas tulisan dan desain
  7. Penyaringan 200 besar finalis ditentukan lewat peringkat di mata mesin pencari Google
  8. Mencantumkan tautan balik ke www.mudaers.com
  9. Boleh web lama atau baru
  10. Memuat tulisn terkait tema minimal 3000 karakter
  11. Karya dikirim ke email : lombaweb@mudaers.com. Pada subjek dicantumka nama web / blog dan lampirkan data diri.

Nah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara agar blog ini bisa masuk 200 besar di mesin pencari Google. Ada yang bisa bantu ga???

Anak Ayam Mati di Lumbung Padi

Published February 6, 2011 by rastiti

 

Barangkali kita telah terlalu terbuai dengan pernyataan bahwa Bumi adalah Planet Air. Nyatanya meski dua per tiga wilayahnya berupa lautan, terlampau banyak daerah yang masih kekurangan air. Banyak orang di suatu Negara mesti berjalan berpuluh kilometer hanya untuk mendapatkan seember air minum. Kebersihannya pun belum tentu terjamin. Bukankah miris rasanya, ibarat peribahasa “Anak ayam mati di lumbung padi”.

 

Bali merupakan contoh yang cukup jelas dimana persoalan air kini sungguh – sungguh telah terjadi di depan mata. Sebagai warga Pulau Dewata awalnya saya tidak terlampau akrab dengan peristiwa banjir. Paling – paling bencana macam itu hanya terjadi di kota – kota besar berpenduduk super padat sekelas Jakarta dan sekitarnya. Namun alangkah mengejutkan, beberapa tahun belakangan ketika musim hujan datang sudah dipastikan banyak wilayah terendam air. Macet dimana – mana karena genangan air dari yang Cuma setinggi jempol sampai seukuran lutut. Bahkan peristiwa banjir beberapa waktu lalu telah memakan korban jiwa.

 

Di satu sisi banjir melanda, di bagian lain, krisis air jadi masalah yang luar biasa. Aliran air mati di siang bolong kini seakan – akan menjadi keseharian masyarakat. Mau complain pada perusahaan penyedia layanan bersangkutan, mereka sepertinya tidak dapat berbuat banyak. Alhasil, saya dan warga Bali lainnya seakan menerima saja keadaan bahwa kita semua kini sedang paceklik air.

 

Krisis air tidak hanya terjadi di kota – kota semacam Denpasar, tetapi juga pedesaan seperti di kabupaten Karangasem. Dari informasi yang saya dapat, di suatu daerah jarak sumber air bersih dengan pemukiman penduduk berkisar antar 4 – 7 km. Belum lagi jalan perbukitan terjal yang harus ditempuh untuk mencapainya. Perusahaan air minum belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di sana terhadap air.

 

Saya kemudian berpikir, apa yang kira – kira membayang di benak kita saat mandi dengan luapan air melimpah sementara seusai mandi kita lihat tayangan berita mengenai kekeringan di satu daerah. Bukankah terkesan konyol sekali. Tepat ketika kita menghabiskan satu gallon air dalam sehari cuma untuk membersihkan badan, ribuan orang tengah berjalan berkilo – kilo hanya untuk minum.

 

Lalu, solusinya apa?

Saya kira, kita patut merefleksikan semboyan salah satu produk penyedia air minum, yang sangat akrab di telinga kita, dalam keseharian. Mengambil dari alam seraya menjaga kelestariannya. Sederhana memang, tapi bukankah di sana intisari pemecahannya. Segala yang ‘terambil’ dari alam mesti ‘terkembalikan’ pula. Proses pengembaliannya tidak lain tidak bukan adalah dengan cara pelestarian itu sendiri.

 

Seperti yang dilakukan oleh Hira Jamtani. Ia merintis sebuah upaya filterisasi air limbah rumah tangga dengan cara tradisional. Berbekal kerikil dan paku – pakuan, wanita ini berhasil menciptakan teknologi sederhana pengolahan limbah menjadi sumber air alternative. Sayangnya usahanya ini masih belum sampai ke kalangan masyarakat yang lebih luas. Ya, satu orang saja memang belum dapat memecahkan persoalan yang besar. Jika sekarang Cuma ada satu Hira, besok atau lusa perlu orang – orang tangguh yang penuh dedikasi seperti ini lebih banyak lagi.

 

Bagaimana jika mulai detik ini, kita mengurangi waktu untuk internetan. Misalkan dalam sehari kita menghabiskan 3 – 5 jam untuk browsing, facebook’an, twitter’an, coba kita sisihkan 1 jam saja untuk merintis apa yang telah dilakukan Hira. Mulai dari membentuk tim, menggalang dana kecil – kecilan, survey lokasi dan perlengkapan. Jadi, siap – siap hubungi teman – teman sekelas, sekampus, sekantor untuk memulainya. Sekarang!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Atur Strategi!

Published January 18, 2011 by rastiti

 

Wah, tanggal 15 Februari tinggal 2 minggu lagi. Harus segera atur strategi untuk bisa lolos 200 besar finalis Kompetisi Web/Blog Kompas MuDa dan AQUA. Tidak seperti lomba tahun lalu, ajang kali ini memang mensyaratkan hal tersebut. Jadi, sangat rugi jika kita punya gagasan bagus yang bisa dituangkan di blog namun karena tidak masuk 200 besar peringkat di ‘Om Google’, gagasan kita tersebut tidak dapat terpublikasi dengan baik apalagi menjadi pemenang.

Oleh karena itu, saya mulai hari ini dengan mencari – cari cara jitu agar blog saya (rastirainia.wordpress.com) bisa masuk ke mesin pencari Google ketika keyword diketikkan. Setelah sekian lama online, mata sudah merah, perut lapar dan bosan, saya menemukan sebuah web yang sangat dahsyat. Seketika jadi miris sendiri melihat dan membandingkanya dengan blog ini. Tapi tak masalah, saya masih punya banyak waktu untuk me’make up blog ini sehingga menjadi cantik, menarik dan tidak lupa mengandung gagasan penting tentang ‘It’s About Us : Air Untuk Masa Depan’.

Oya, bagi kawan – kawan yang sempat mampir dan tertarik untuk ikut serta kompetisi ini. Berikut beberapa persyaratannya :

  1. Tema : It’s About Us : Air untuk Masa Depan
  2. Peserta : 15 – 22 tahun (pelajar SMA/mahasiswa)
  3. Peserta perseorangan atau tim boleh mengirimkan lebih dari satu alamat web atau blog
  4. Bisa menggunakan domain blog sendiri atau memanfaatkan blog gratisan (wordpress, blogspot dkk)
  5. Disertai kata kunci Kompetisi WEB Kompas MuDa & AQUA
  6. Penilaian meliputi kualitas tulisan dan desain
  7. Penyaringan 200 besar finalis ditentukan lewat peringkat di mata mesin pencari Google
  8. Mencantumkan tautan balik ke www.mudaers.com
  9. Boleh web lama atau baru
  10. Memuat tulisn terkait tema minimal 3000 karakter
  11. Karya dikirim ke email : lombaweb@mudaers.com. Pada subjek dicantumka nama web / blog dan lampirkan data diri.

Hadiahnya?! Hmm sangat menarik… Jadi, mari bersaing!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers