kudengar suara hujan, di luar, berdampingan dengan silangan percakapan yang redup redam. malam larut sejauh pekat ragu memutar waktu. masih saja mimpi-mimpi remaja itu datang seperti kenangan yang memanggil-manggil.
ah malam, kau karibku kali ini. sungguh tak ada yang lebih menyenangkan selain menyaksikan kedatanganmu. aku akan berselimut saja dalam gelap. menantikan sekumpulan awan lewat dan tempias cahaya yang selintas itu sampai di celah jendelaku.
tidak, aku tidak akan menyanyikan sesuatu yang pilu seperti mawar-mawar putus asa itu. tidak pula melagukan senandung pasrah kupu-kupu yang merelakan sayapnya pada pohon. aku hanya akan tertawa selepas ombak yang bergantian menggapai karang.
sebab malam, kau adalah karibku saat ini. maka berbagi rahasialah denganku. esok bolehlah kau cumbui bulan sepenuh seluruh hingga gigilku terbit lagi bersamaan embun.