Musikalisasi Puisi : Bukan Sekadar Memusikkan Puisi

Pengantar

Dalam pandangan saya, musikalisasi puisi adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap puisi dengan menggunakan media musik. Sudah jelas, di dalamnya ada dua unsur yakni musik dan puisi. Namun banyak hal yang harus dicermati dan dipahami agar sublimasi antara teks puisi yang penuh kedalaman makna dengan musik yang juga punya ciri unik tersendiri dapat terjadi secara utuh dan padu. Tantangannya adalah bagaimana memadupadankan unsur-unsur dalam puisi dengan nada-nada melodis, ritmis, maupun harmonis yang terkandung dalam musik. Musik tentu harus mampu menangkap peristiwa sekaligus suasana dalam puisi. Satu sama lain mesti saling menguatkan dan tidak tumpang tindih.

Sebagian besar pelaku seni menyatakan bahwa tidak ada definisi dan batasan yang jelas terkait musikalisasi puisi. Sejalan dengan itu, belum ada pula yang dengan gamblang menjelaskan mana musikalisasi puisi yang baik, mana yang tidak baik, mana yang termasuk dalam kategori ini dan mana yang bukan. Barangkali karena hal itu tidak jarang berbagai eksperimen kerap dilakukan. Dan yang mengesankan adalah, sekalinya mencoba untuk mengkreasikan musikalisasi ini, orang-orang akan terus menerus mencoba untuk melakukan eksplorasi tidak hanya terbatas pada pemaknaan puisi lewat musik itu sendiri tetapi juga terhadap instrumen musik yang digunakan.

Dalam Lomba Musikalisasi Puisi Balai Bahasa Denpasar tahun 2005 misalnya, ada yang menggunakan alat musik tradisi semacam gamelan sederhana sebagai upaya menerjemahkan isi puisi, ada yang menggunakan alat musik lengkap seperti gitar, biola, alat musik pukul, bahkan ada pula yang melakukan bentuk-bentuk gerakan teatrikal pembacaan puisi yang diiringi musik, dan kreasi-kreasi lainnya. Tidak jarang pula guna memperkuat suasana dalam puisi, para pemain juga menggunakan kostum yang khas dengan tata rias yang tak kalah artistik guna mencapai tujuan estetis dari pertunjukan. Sampai sejauh ini, dalam pandangan saya boleh dikata musikalisasi yang dianggap baik khususnya di Denpasar atau Bali adalah bentuk-bentuk pementasan yang memenangkan perlombaan sekelas itu.

Jika mencermati kelompok-kelompok penggiat musikalisasi khususnya di Bali dalam kurun waktu 5 tahun belakangan, kita pastilah dapat mengetahui bahwa sebagian besar dari mereka menggunakan pola-pola serupa terkait pembagian vokal. Hal ini tampak jelas dalam aksi pementasan teater-teater sekolahan seperti Teater Angin SMAN 1 Denpasar, Teater Tiga SMAN 3 Denpasar, Teater La Jose SMAK Santo Yoseph, Teater Antariksa SMAN 7 Denpasar, Teater Blabar SMAN 4 Denpasar, Teater Limas SMAN 5 Denpasar, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar, juga beberapa kelompok musikalisasi lainnya. Mereka selalu melakukan pembagian suara pemain-pemainnya. Dalam satu tim yang terdiri dari 6 sampai 10 orang biasanya terdapat vokalis utama pria, vokalis utama wanita, suara I, suara II, lengkap dengan dua sampai tiga orang pemain gitar, serta pemain ketipung atau alat-alat musik ritmis lain semisal triangle sebagai pendukung.

Nah, dalam tulisan ini saya akan mencoba merangkum pemahaman saya mengenai musikalisasi berdasarkan pengalaman bergiat dalam pembuatan musikalisasi yang saya hubungkan dengan proses kreatif penciptaan puisi.

Bentuk dan Isi

Seringkali ketika menggarap musikalisasi puisi, fokus kreatif justru pada aransemen musik. Padahal seperti yang telah disampaikan di atas, musikalisasi bukanlah sekadar memusikkan puisi. Jangan sampai, unsur musik malah menutupi karakter dalam puisi. Singkatnya, dapat dinyatakan bahwa puisilah yang menjadi dasar atau esensi aransemen musik. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kreator musik untuk memahami makna dan esensi suasana yang terkandung dalam puisi.

Dalam hemat saya, musikalisasi puisi dalam proses kreatifnya mengandung unsur isi dan bentuk. Seperti halnya dalam penciptaan puisi, kita tak boleh melupakan dua hal ini. Dalam puisi isi dan bentuk tidak diperoleh begitu saja, apalagi mengharapkan ada cara-cara instan untuk dengan segera dapat memahaminya. Mesti ada kesungguhan dan intensitas yang tidak kenal lelah untuk mengerti keduanya.

Bentuk dalam puisi yang diterjemahkan sebagai kecakapan berbahasa (menggunakan bahasa termasuk di dalamnya idiom-idiom) didapat penulis dari pengalaman menggunakan bahasa dan juga bacaan-bacaan. Sedangkan isi diperoleh dari kepekaan intuisi dalam menangkap momen-momen keseharian, bahkan yang sederhana sekalipun.

Kalau dalam puisi bentuk merupakan kepiawaian bahasa yang digunakan penulis dan isi adalah tema-tema atau pesan yang ingin disampaikan, musikalisasi juga saya ulas menjadi dua esensi serupa. Bentuk adalah musik sedang isi ialah teks puisi. Oleh karena itu, proses pemaknaan puisi menjadi bagian muasal paling penting yang tak terelakkan untuk menuju tahapan kreatif selanjutnya.

Secara singkat proses kreatif pembuatan musikalisasi puisi boleh kiranya dilihat dalam bagan sederhana di bawah ini :

  1. Pemaknaan Puisi
    1. Menentukan tema besar puisi
    2. Mencari unsur musikalitas dalam puisi
    3. Menentukan suasana dalam puisi
    4. Menentukan bait reefrain.
    5. Menentukan bait yang dibacakan (bisa dilakukan dapat pula tidak tergantung kreativitas)
  2. Pemilihan alat-alat musik
    1. Alat musik utama : gitar, biola, dan lain-lain
    2. Alat musik pendukung : triangle, ketipung, dan lain-lain
  3. Aransemen musik
    1. Menentukan musik pembuka
    2. Menentukan musik untuk reefrain
    3. Menentukan musik penutup
    4. Menentukan musik untuk mengiringi pembacaan (bisa dilakukan dapat pula tidak tergantung kreativitas)

Memasyarakatkan Puisi

Musik, dalam perkembangannya memiliki beragam fungsi penting dalam kehidupan kita. Pertama, sebagai bagian dari proses edukasi. Dalam beberapa penelitian, disimpulkan bahwa musik tak hanya dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan, tetapi juga secara umum dapat melatih kepekaan intuisi. Fungsi yang kedua ialah sebagai media sosialisasi. Musik boleh jadi merupakan cabang seni yang bersifat universal, mudah dipahami oleh siapapun. Dan fungsi ketiga yakni sebagai media hiburan.

Puisi, yang terbentuk dari pergulatan pemikiran, ide, gagasan, dan keluasan imajinasi juga memiliki peran penting dalam perkembangan budaya yang adiluhung sekaligus dinamis dalam menyikapi kekinian. Puisi merangsang kepekaan terhadap keindahan dan rasa kemanusiaan sekaligus berupaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang terkikis arus teknologi dan menyadarkan kembali manusia pada kedudukannya sebagai subjek dalam kehidupan ini. Puisi berusaha mengembalikan stabilitas, keselarasan, dan keutuhan dalam diri manusia. Mengingat peran penting tersebut bagi kehidupan, sudah tentu diperlukan upaya untuk memasyarakatkannya. Nah, perpaduan antara musik dan puisi, dalam hemat saya bisa membawa perubahan cara pandang terhadap susastra terutama puisi yang terkesan kurang peminat dan terlampau serius. Musik dapat menjadi sarana paling ideal dalam memasyarakatkan puisi.

Dalam pandangan saya, meski dalam kurun waktu beberapa tahun ini, penggiat musikalisasi kian bertambah utamanya dari kalangan pelajar (teater sekolahan), barangkali masih perlu ada pelatihan-pelatihan semacam ini, bukan untuk menyamakan persepsi mengenai apa itu musikalisasi puisi ataupun batasan mencakup musikalisasi yang baik. Lebih dari itu, pelatihan semacam ini dapat menjadi ruang untuk menggali kemungkinan eksplorasi lebih jauh terhadap musik dan puisi. Pada akhirnya cita-cita bersama untuk memajukan kesenian dan susastra khususnya puisi dapat segera terealisasi. Bravo!

* disampaikan dalam workshop muspus Parade Seni Sastra

About these ads

2 thoughts on “Musikalisasi Puisi : Bukan Sekadar Memusikkan Puisi

  1. Ulasan yang keren, Rast. Sayang saya tidak hadir dalam workshop-nya. Btw, saya belum pernah melihat pementasan musikalisasi puisi yang menampilkan bentuk-bentuk gerakan teatrikal di dalamnya. Yang lumrah saya lihat, para penampil hanya duduk manis, tanpa gerakan ekspresif, paling-paling hanya goyang badan ke kanan dan ke kiri. Kalau nonton yang beginian, mending saya tutup mata. Biarkan telinga saja yang menikmati… he….

  2. hem hem hemmm hahahaha….. kalo mau, masih ada workshop lanjutan di 6 kota seluruh Bali…

    nah itulah uniknya, waktu itu ada satu pemain gestuur sambil baca puisi (bukan dinyanyikan) lalu yang lain duduk manis memainkan alat musiknya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s