Latest Entries »

HAPPY BIRTHDAY

SELAMAT ulang tahun my rastirainia.wordpress.com…

maaf beribu maaf beberapa pekan ini aku cuek padamu, jarang posting, jarang nengokin….. heee

semoga setelah 3 tahun ini, kita makin sering bisa berbagi bersama ya blogku. banyak cerita yang ingin kusampaikan. tapi aku mau siap2 jaga siang dulu di UGD… huffftttthhhhh

see u soon

celoteh

hingga saat ini saya masih mencoba memahami mengapa ada perpisahan yang kemudian menyisakan kepedihan yang mendalam. ketika kenangan-kenangan manis selama bertahun-tahun itu justru menjadi sesuatu yang getir, yang mewujud dalam perasaan sendiri, sepi, dan hampa.

saya pernah patah hati tapi satu peristiwa bisa mengubah segala kepahitan, dan membuat saya sadar bahwa pintu kebahagian itu telah terbuka.

tapi saya merasa sungguh egois jika kemudian ketika kebahagiaan itu telah ada dalam genggaman saya abai pada sesuatu yang tertinggal di masa lalu.

bulan dan tahun lewat, lekas sekali, hanya menyisakan fragmen-fragmen kisahan tertentu yang apik tersembunyi. dalam sekian waktu itu saya merasa pernah menjadi bagian itu, bagian yang hilang, the lost side. sedang peristiwa sesungguhnya adalah bayangan-bayangan peristiwa yang masih gegap gempita dalam diri–yang akhirnya kini sendu menjadi sesuatu yang melulu muncul dalam ingatan.

ingin berkata setiap hari setiap waktu untuk kepiluan itu bahwa sesuatu yang luar biasa hebatnya tengah menunggu di satu sudut, menunggu untuk dibuka. perempuan yang hebat, yang tangguh, yang padanya kekuatan cinta itu ada, kesetiaan yang senyatanya itu miliknya.

lihatlah, bukan mawar saja yang indah, tapi juga krisan atau tulip. lihat saja betapa sakura atau peoni pernah menaklukkan waktu untuk bersetia. maka, raihlah kuntum-kuntum yang penuh gelora kesegaran itu. maka mawar akan kau lihat sebagai mawar yang indahnya bukan keabadian. mawar itu hanya abadi ketika kenangan muncul menyembul dari sebuah gambar atau tulisan.

Agustus

Betapa tak tentu, malam yang memanggil-manggil. Senyap kenangan di kejauhan. Bagaimana mungkin waktu tetap mempertautkan kerinduanmu padanya. Apakah hari yang lewat masih belum mampu membiasakan kesepian padamu.

Lihat kuntum kamboja yang masih berembun itu. Berulang kali datang padanya keindahan, berkali-kali pula waktu merenggut segalanya. Tapi bukankan dengan demikian lahir keindahan yang lain, keindahan yang akan disaksikan oleh hari-hari mendatang.

Mengapa masih saja terpaut hatimu pada tahun-tahun silam itu. Yang senyumnya menggetarkan namun kalah oleh langit kiasan matahari terbit. Yang wajahnya bulat cerah memenuhi ruang gagumu namun kalah oleh mendung yang mencurahkan hujan untuk sejukmu.

Sedang aku hanya bisa bertanya. Baik itu untuk kisah yang panjang atau jejakmu yang tak sengaja kutemukan.

AKU BERMIMPI

*dimuat di BaliPost edisi Minggu.

Aku masih berada di sini. Melihat gelembung udara yang berbunyi gemerisik di ruangan persegi empat bercat biru muda ini. Hampir – hampir kuakrabi semua yang tampak di hadapanku. Berat juga rasanya menyadari bahwa aku mulai terbiasa dengan keadaan di sekelilingku terutama aroma harum aneh pembersih lantai yang awalnya sangat tidak kusukai.

Aku sedikit lupa sejak kapan aku mulai rajin mengunjungi tempat ini. Bahkan pada beberapa waktu,  berminggu – minggu kuhabiskan disini. Tiap hari beberapa orang datang, membuka paksa bajuku, lalu menempelkan semacam alat ke tubuhku lalu mengangguk – anggukan kepala dan mengatakan sesuatu kepada orang di sebelahnya. Barulah kutau alat itu bisa memperdengarkan bunyi jantungku. Aneh.

Saat itu, bulan November, 2 minggu sebelum perayaan hari ulang tahunku yang kesembilan. Waktu itu, aku dan beberapa kawan menghabiskan waktu istirahat dengan bermain petak umpet di halaman sekolah. Meski guru – guru sering menasehatiku agar lebih banyak bermain dengan kawan perempuan, tetap saja aku lebih suka menghabiskan waktu istirahat dengan teman – teman lelaki., bermain lari – larian dan tentu saja petak umpet.

Saat itu, matahari begitu terik. Panasnya seakan bisa menusuk – nusuk kulit tubuhku. Tapi permainan ini membuatku tak peduli pada semua itu. Namun, sesaat sebelum bel tanda masuk kelas berbunyi. Sesuatu yang hangat mengalir lancar dari hidungku. Ketekankan tanganku ke hidung, ternyata darah segar dengan warna merahnya yang melimpah seakan jatuh begitu saja dari hidungku. Semakin lama cairan darah itu merembes dari hidung, ke dagu lalu ke seragam sekolahku. Beberapa waktu kemudian, ibu dan beberapa orang guru membawa aku kemari. Saat itulah aku datang pertama kali ke tempat ini.

Rasa – rasanya selama sebulan, aku diam disini. Makan, mandi, berpura – pura mengerjakan PR, semuanya kulakukan di ruangan ini. Lagi pula aku malas keluar. Ada saja sekelompok orang yang kulihat menangis di sudut luar kamarku, bahkan mengumpat mencaci entah apa. Mereka beringas. Aku tak suka melihat kelakuan buruk itu. Bukankah mereka seharusnya bersikap manis di depan anak – anak, apalagi anak kecil yang tengah sakit sepertiku. Suatu kali kudengar si dokter berkata pada Ayah dan Ibu bahwa aku mengidap leukemia. Artinya apa, aku tidak tahu.

Sebenarnya aku benci di sini. Sangat benci. Bayangkan tiap pagi, mereka ambil darahku. Belum lagi menahan rasa sakit ketika jarum tajam itu menusuk kulitku. Rasa dingin ketika ujungnya menyentuh kulitku lalu ketika keseluruhan bagiannya menembus kulit dan cairan merah segar dari tubuhku mengalir bebas seakan tanpa paksa, ke dalam tabung kecil warna ungu yang menakutkan itu.

Baru kutau, sejak saat itu, waktu telah memilihkan nasibnya untukku. Usia bagiku bukan lagi soal ketidakpastian atau prasangka, terlebih pengharapan dan impian. Aku sudah terlampau paham bagianku di dunia. Tak ada yang kuperjuangkan lagi memang, tapi entah kenapa itu memberikanku gairah untuk melakukan banyak hal. Saat aku memahami semua itu, usiaku sudah sebelas tahun.

Ibu menyarankanku membuat buku harian. Sedang kakakku, lelaki terbaik yang sempat kutemui, memberikan hadiah pena yang bagus sekali di hari ulang tahun. Dan dia memintaku membawanya tiap hari. Namun aku kasian sekali jika harus membawa pena sebagus itu kemana-mana. Aku takut menghilangkannya atau lupa menaruhnya dimana.

Maka kutulis semuanya di buku harian yang manis itu.

***

Dari jendela itu, kulihat langit sebagaimana adanya ia. Di pagi hari, menjelang pukul 6, warna jingga pudar perlahan terbit dari ujung timur langit. Pagi membawa perasaannya sendiri. Menyaksikannya seperti melihat sendiri bagaimana seekor kupu – kupu dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari kungkung kepompongnya. Lalu tempias cahaya membuat warna sayapnya kian penuh pesona. Melihat pagi juga seperti menyimak seorang balita yang hati – hati mencoba berdiri, menegakkan kakinya. Semuanya itu sungguh memberikan semangat yang luar biasa untukku.

Barangkali sebuah anugrah sampai saat ini aku masih bisa merasakan kenikmatan macam itu meski hanya dari ruangan segi empat dengan harum aneh yang khas ini. Sudah sebulan aku diam di sini. Kata dokter, observasi ketat harus dilakukan. Teman – teman SMP ku sering juga datang dengan cerita – cerita konyol seputar guru sekolah kami yang masih saja kolot dan konyol. Boleh dikata aku senang dan tidak pernah sedikit pun merasa bosan. Apalagi selama ini pagi seakan selalu memberikan kesegaran yang lain.

Namun ada satu hal yang merisaukanku. Ini berawal dari mimpi dua malam lalu. Mimpi tentang kunang – kunang yang lahir dari sebuah kepompong hitam. Rupa kunang – kunang itu jelek sekali. Abu – abu dan penuh lendir.

Suatu pagi di bulan Februari, aku dikejutkan kabar bahwa ibuku hamil lagi. Baru dua bulan, katanya. Senyum ibu dan tangisnya tumpah bersamaan ketika menyampaikan kabar itu padaku. Sungguh bahagia mendengarnya. Terbayang sudah, kesepian ayah, ibu juga kakakku tak akan berlarut lama setelah kepergianku. Tapi sebuah perasaan yang kuat menjalar pelan dan dalam di hatiku. Perasaan yang tidak dapat kujelaskan namun seakan tak tertolak dari hari ke hari.

Lebih dari seminggu tidurku tak nyenyak. Tak lagi dapat kunikmati pagi, yang semakin lama kuanggap sebagai karibku sendiri. Orang – orang masih ramai berdatangan. Sedang di luar, sedikit pun tak dapat kudengar suara, bahkan sepasang cecak sekalipun. Karena itu, semuanya jadi seakan menyiksa. Rasa bubur yang tak enak, jus buah hambar dengan warna mencolok yang menjijikkan, dan obat – obat yang tambah banyak saja jumlahnya. Ada vitamin, penambah darah, penghilang sakit, antibiotic entah apa lagi. Tak banyak yang bisa kulakukan untuk menolak semua itu. Bukankah aku memang tak punya pilihan selain menikmati semua perlakuan yang diberikan orang – orang padaku.

Seraya memikirkan hal itu aku mulai sering menggambar wajah – wajah bayi di buku harianku. Bayi lelaki itu kubayangkan sebagai adikku sendiri. Menyenangkan memikirkan betapa bahagianya memiliki seorang adik lelaki yang tampan dengan rambut ikal tipis di kepalanya, bibir mungil yang menguap manja, dan suara tangis yang menggema kemana – mana.

Ibu mulai jarang datang menjenguk dan itu tak merisaukanku. Begitu juga dengan ayah dan kakakku. Sementara mimpi – mimpi buruk yang tiap malam datang jauh lebih membuatku terpuruk.

***

Tidak terasa kini Ibu sudah hamil 9 bulan. Sejak belasan minggu yang lalu aku hanya berbaring. Menggerakkan badan sedikit saja susah rasanya. Makan pun aku minta bantuan perawat. Kadang karena kesusahan bernapas aku harus memakai bantuan oksigen. Jujur saja, aku sangat tak suka pada suara gelembung yang muncul dari tabung air yang menghubungkan selang dengan tabung oksigen itu. Saat kulihat sekumpulan semut yang terjebak di cangkir setengah kosong di atas meja, baru kusadari, ketaksukaan itu semacam rasa takut terhadap kematian. Melihat semut – semut yang bergerak – gerak tanpa daya dalam kubangan cairan itu lalu seketika sesuatu yang besar entah apa membuat mereka tak lagi bergerak, hening dalam kelembamam yang tak terpikirkan. Itukah yang terjadi jika nanti aku mati.

***

Tak dapat lagi kubedakan yang mana mimpi atau kenyataan. Baru saja aku merasa sedang berada di padang rumput yang sejuk. Beberapa domba tengah berkumpul merumput. Ada sungai kecil di tengah – tengahnya, meliuk entah menuju kemana, lalu aku mandi di tengahnya dalam ruapan air yang jernihnya luar biasa. Tiba – tiba seorang anak lelaki rupawan datang, minta izin mendekat dan memanggilku kakak. Saat ia memasukkan kaki – kaki kecilnya yang ramping, seketika semua itu seolah berputar – putar dan aku sudah berbaring kembali di sini melihat ibu memegangi perutnya yang membesar sambil memandang kosong ke arahku, seperti orang melamun.

Suatu pagi aku merasa berada di hamparan sawah yang luas, menghijau dengan sempurna. Matahari terlihat terik bersinar tapi tak kurasakan sedikitpun rasa panas atau gerah. Aku berjalan – jalan sesuka hati disana. Sesekali beberapa burung hinggap di sebatang padi hingga batangnya tampak terkulai di pematang. Ketika aku mendekat kesana burung – burung itu bergegas pergi. Tiba – tiba kudengar celoteh seorang anak lelaki. Kembali dia panggil aku dengan sebutan kakak. Saat aku mendekat ke arahnya selalu saja kudapati diriku tengah berbaring di sini, melihat ibuku yang memandang jauh entah pada apa.

***

Suatu pagi aku merasa sangat segar. Tapi masih terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur. Ibu tak ada di tempat duduk biasanya. Hanya ada kakak yang memandang asyik entah apa ke luar jendela. Saat menyadari aku telah bangun dari tidur ia segera menghambur ke arahku dan bercerita banyak sekali tentang hari – harinya. Tak ada yang kuingat satupun tentang cerita itu bahkan aku telah lelap kembali di sela – sela obrolan yang seakan begitu panjang tak ada habisnya. Belum juga sempat kutanyakan keadaan Ibu, sebab minggu ini sebenarnya adalah perkiraan kelahiran adikku.

Kali ini aku sangat sadar kalau aku bermimpi. Aku berada di sebuah ruangan yang sepertinya merupakan bagian dari bangunan yang luar biasa besar. Seluruhnya berwarna putih. Bersih sekali seakan tak ada satupun butir debu di sana. Aku kitari seluruh sudutnya, tapi kurasa ruangan itu berbentuk lingkaran karena tak kutemukan pertemuan antara sudut – sudut di tembok – temboknya. Semakin kukitari semakin luas saja kurasakan ruangan itu. Entah berapa lama berselang, aku hamper – hamper lupa apakah saat itu siang atau malam hari, sebab tak ada jendela di sana. Desir angin pun lamat – lamat tak dapat kurasakan. Sedikit demi sedikit aku merasa bingung bercampur takut. Dimanakah ujung ruangan itu, dimanakah pintu atau sedikit celah tempat bisa kulihat dunia luar.

Di tengah rasa nelangsa itu, suara anak lelaki memanggilku halus sekali. Tapi tak dapat kulihat rupanya. Berulang ia berkata, “Lewat sini, Kak. Lewat sini, Kak. Jangan kesana nanti kakak salah jalan. Cepatlah Kak. Aku disini.” Tanpa ragu sedikitpun aku ikuti ke arah mana suara itu, namun tak dapat kuterka kemana suara itu akan membawaku. Sampai di sebuah ruangan yang lebih kecil, aku mendapati seorang anak lelaki, telanjang, memandangku riang. Wajah anak itu seperti sangat akrab di mataku tapi tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya.

“Kak, aku takut sendiri disini, temani aku ya.” Ada nada riang tapi juga kemanjaan yang tak biasa dalam permohonannya. Tiba – tiba seperti ada sesuatu yang besar tengah menarik masuk ruangan itu ke dalam putaran angin yang kuat dan mencoba menarikku juga. Segera kuraih anak itu mencoba menyelamatkan diriku dan dirinya. Anehnya, anak itu lalu berkata, “Sudahlah Kak tak usah takut. Kini saatnya Kakak bertemu dengan paman yang baik hati itu. Dia berjanji memberikan sayap untuk kita berdua. Jadi kita bisa bermain sepanjang hari di awan – awan putih yang kita lihat setiap pagi.”

Aku turut saja pada anak lelaki itu. Sebab kini aku merasa seluruh tubuhku sangat ringan. Seakan bisa terbang dengan sedikit hentakan kaki. Aku biarkan saja sesuatu yang besar luar biasa itu membawaku masuk ke putaran angin sambil menggendong anak lelaki yang memanggilku kakak itu. Aku biarkan saja hawa sejuk yang lembut menyusup perlahan ke tubuhku. Aku biarkan saja semuanya. Bukankan ini hanya mimpi belaka. Tunggu saja sampai Ibu atau Kakak membangunkanku.

DAYA ‘JUANG’ KARYA

Oleh : Ni Putu Rastiti

Disampaikan dalam Bali Emerging Festival 2011

Sudah seharusnya penulis memiliki keterlibatan dengan dinamika kehidupan masyarakat beserta problematikanya. Keterlibatan ini mestilah nampak dalam karya-karya sastra, entah itu puisi, cerpen, esai, ataupun novel. Lebih jauh, perasaan terlibat boleh jadi menumbuhkan rasa peka penulis yang muaranya tentu saja inspirasi baru bagi karya-karya selanjutnya. Dalam hemat saya, pergulatan kreatif itu tidak berhenti sampai di situ. Karya sastra mutakhir dan dikenang di tiap zaman bukan soal pencapaian estetik yang mendalam melainkan daya ‘juangnya’ dipandang memberi perubahan bagi public, perubahan ke arah kemajuan, perubahan ke arah penyadaran.

Ada ungkapan “tentara berkekuatan tank dan bedil, sedangkan kekuatan penulis pada bahasa”. Wiji Tukul pada masanya, ditangkap bahkan tidak pernah kembali ke keluarganya karena apa yang ditulisnya sebagai ekspresi diri dianggap subversive dan berbahaya. Majalah Tempo dan surat kabar lain yang intens melakukan kritisi terhadap pemerintahan di era Orba dibredel, tak punya ruang sama sekali untuk menyiarkan informasi. Namun justru pada masa itu lahir karya-karya mumpuni baik secara teknik berbahasa dan bercerita serta tema yang gencar menyuarakan keinginan rakyat. Rendra dengan puisi pamfletnya tidak hanya menjadi penulis puisi dan actor hebat di masanya tapi juga kerap menuliskan keniradilan pemerintah. Karya Pramoedya lengkap dengan latar hidupnya sebagai tahanan politik di tiga decade pemerintahan tidak hanya dianggap penulis yang ‘membangkang’ dari kezaliman penguasa tapi juga teladan bagi penulis-penulis generasi lanjutannya untuk melakukan olah kreatif yang lebih kaya secara tema juga gaya bahasa.

Dengan demikian terbukti sudah sastra punya kewajiban tersendiri dalam upaya menggapai perubahan yang lebih baik. Lalu, saat ini sudahkan karya sastra menunaikan ‘tugasnya’? Bagaimana tulisan yang ada sekarang ini bisa menjadi ‘tonggak’ perubahan?

Tema Karya : Perkaya Batin atau Unjuk Populer

Bahasa atau kalimat ucap penulis dapat bersifat ekpresif sugestif, tapi tidak menutup kemungkinan penuh kedalaman batin yang kontemplatif. Yasunari Kawabata adalah penulis Jepang yang menampilkan tema-tema absurditas manusia dengan pilihan bahasa yang minimalis dan detail bahkan terkesan introvert. Gabriel Garzia Marques menuliskan tema-tema serupa dengan kalimat yang ekspresif, mengandung banyak sekali kemungkinan bagi pembaca untuk menafsirkan maksudnya. Indonesia pun melahirkan banyak penulis yang karyanya dapat disejajarkan dengan sastrawan tingkat dunia, AA Navis, Pramoedya, dan lain-lain.

Namun belakangan ini muncul kekhawatiran bahwa sastra dianggap terlampau serius dan mulai ditinggalkan oleh anak muda karena tema-tema karya yang penuh nilai itu melulu soal kepahitan hidup, pencarian jati diri yang hakiki, absurditas manusia, perenungan yang mendalam—topik yang jauh dari keseharian anak muda yang menyukai kesenangan serta menjadi eksis/trend dalam pergaulan.

Di sisi lain kemunculan penulis-penulis muda dengan novel teenlitnya yang sangat beraneka, menumbuhkan harapan baru bahwa sastra tidak akan punah. Namun yang menjadi persoalan adalah keseragaman tema yang dihadirkan. Novel teenlit dianggap bukanlah karya sastra sehingga tidak pernah ada perdebatan yang mendalam mengenai potensi penulis-penulis novel jenis ini untuk memajukan sastra itu sendiri. Padahal semangat dan gairah kreatif mereka merupakan modal besar untuk menumbuhkan kecintaan pada dunia tulis menulis—tradisi warisan luhur generasi pendahulu.

Seringkali penulis novel teenlit itu juga dijadikan role model oleh remaja penggemarnya. Mulai dari gaya hidup yang ditawarkan lewat cerita-ceritanya sampai pada cara menyikapi permasalahan seputar persahabatan atau hubungan percintaan. Pendapat yang lebih ekstrim adalah bagaimana mungkin tema-tema cengeng seputar cinta-cintaan anak muda bias jadi penyambung lidah rakyat atau pembawa perubahan. Bukankah saat ini penulis entah tua muda mesti lebih intens mengkritisi keadaan social di  masyarakat. Apa jadinya jika anak muda dijejali kisah-kisah picisan yang tidak merangsang kepekaan dan empati mereka terhadap situasi terkini masyarakat mereka.

Perkara ini kian menjadi-jadi ditambah dengan kecanggihan teknologi yang kian berkembang. Saat ini banyak orang dapat menyalurkan perasaan dan pikirannya secara lebih terbuka dan berani tentang beragam hal melalui blog, twitter, dll—beda sekali pada era Orba—keterbukaan berarti pemberangusan. Di bidang sastra sendiri kualitas karya-karya itu menjadi perdebatan pelik sebab tidak ada system kuratorial yang diakui dalam pempublikasian karya-karya dalam media online yang bejibun jumlahnya.

Dengan demikian beberapa kalangan justru menyimpulkan banyaknya karya tulis fiksi yang dapat diakses dengan mudah tidak memberikan jaminan bahwa perubahan yang baik akan terjadi. Kemungkinan lain yang berkembang justru efek negative yang tidak menguntungkan sama sekali bagi public yang membaca. Bahkan ekses negative ini melaju pada kecenderungan ‘perseteruan’ antara karya yang dipublikasikan secara digital-independen dan cetak-formal. Bukankah perdebatan macam ini justru menghabiskan energy kreatif kita untuk sesuatu yang tak nyata?

Kembali ke soal garapan tema. Pilihan tema ‘ringan’ memang mudah sekali menjadi popular di masyarakat apalagi di kalangan anak-anak muda. Percintaan, hubungan persahabatan, cerita tentang situasi kampus dan sekolah lengkap dengan latar guru/dosen ‘killer’ dapat dicerna secara mudah oleh siapapun. Sedangkan topic menyoal kekerasan hidup, pencarian jati diri yang hakiki, problema kemelaratan menjadi terasingkan alih alih mendapat tempat yang layak di hati pembaca atau setidaknya menjadi semacam bahan renungan.

Anton Chekov, cerpenis luar biasa itu pernah berkata “Penulis bukanlah pembuat manisan, dealer kosmetik, atau penghibur. Dia adalah orang yang telah sadar dan bertanggungjawab menandatangani kontrak dengan-Nya”. Secara lebih gamblang ia menyatakan bahwa proses kreatif menulis atau menjadi seorang penulis adalah mengikat diri dalam suatu hubungan personal dengan Tuhan. Maka itu, menjadi kewajibannya untuk menyiarkan hal-hal tertentu dengan tujuan kebaikan kemanusiaan.

Pendapat yang hamper serupa diserukan oleh Victor Hugo, penulis kenamaan itu,  “Jika seorang penulis menulis hanya untuk menghabiskan waktunya, Anda harus mengistirahat pena dan membuangnya”. Ya, jika saat ini kita menulis hanya untuk menyenangkan diri pribadi, maka baiknya mulai sekarang kita berpikir bagaimana tulisan kita mampu memberi nilai/esensi bagi orang lain.

Lihat saja di era tahun 2000-an Andrea Hirata dengan ‘Lascar Pelangi’ telah menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk berkarya tidak hanya di bidang sastra tetapi juga di bidang lainnya. Perjuangan yang dikisahkan secara apik itu membius remaja untuk tetap mempertahankan mimpinya sekaligus berupaya mewujudkannya. Meskipun novel tersebut memang belum dinominasikan dalam penghargaan sekelas nobel prize tapi kisahan macam ini bias menjadi ‘suntikan’ semangat baru bagi kita semua.

Menjadi penulis adalah pilihan, tapi menulis untuk kebaikan kemanusiaan adalah keharusan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.