10.06.09
Happy Birthday, rastirainia.wordpress.com!
rastirainia.wordpress.com sangat berarti bagi saya. Hampir sebagian besar tulisan dalam blog ini secara jujur adalah sebentuk hari, hati, emosi dan juga eksistensi seorang Rasti. Keberadaannya lebih merupakan simbolisme sebuah perjumpaan yang mengagumkan dengan seseorang, yang mungkin tak kan pernah terulang dalam sekian masa hidup saya.
Tak terasa ternyata sudah sekian waktu berlalu. Lagi-lagi saya mengingat mula pertama blog ini tercipta. Kadang saya berpikir blog ini adalah avatarnya Hawa yang terlahir dari rusuk Adam yang rupawan. Hahaha, mungkin terdengar sedikit berlebihan.
Tiap postingan punya kisahnya sendiri. Saya pernah berpikir untuk menulis latar cerita tulisan-tulisan tersebut, namun pada akhirnya saya urungkan niat itu, karena terkesan mempublikasikan keseharian saya yang paling pribadi. Hmm, saya tak ingin blog ini jadi public diary yang bisa diintip semua orang yang lalu lalang apalagi kalau ada yang sampai mendengus kesal, hehehe…
Terlepas dari berbagai pandangan pembaca mengenai tulisan-tulisan dalam blog ini, seperti halnya orang-orang yang juga menulis lewat media blog, saya selalu berharap ada makna dan hikmah yang didapat setelah pembaca sampai pada halaman-halaman dalam rastirainia.wordpress.com.
Akhirnya, di ulang tahunnya yang pertama, semoga blog ini tetap meng-Ada di jagat maya, hehehehe…
Oktober 2008 – Oktober 2009
09.23.09
Our Rain
: s
Ketika kau sampai pada halaman ini mungkin aku tengah memikirkanmu sembari tetap menulis sesuatu tentang hari yang telah berlalu, di antara tumpukan kertas tugasku, juga alunan lagu-lagu yang memenuhi seisi ruang tidurku.
Kau yang paling tahu, betapa seringnya aku menggugat waktu. Kau pun tahu di balik semua itu, aku bukan apa-apa di hadapannya. Hanya mampu menyusurnya berulang kali dengan jejak-jejak kecil yang tiada henti kutinggalkan.
Ketika kau sampai pada halaman ini mungkin aku sedang bicara dengan mereka. Selalu ada yang membuatku tertawa. Cara mereka bicara, berjalan, menatap mataku atau memelukku. Tapi selalu pula ada senyum juga pandang matamu yang lembut itu.
Kau yang pertama kali membuatku percaya bahwa jalan di ujung sana jauh lebih terang dari yang dapat kusaksikan. Meski tanpa penanda atau penunjuk arah, kau katakan aku akan dengan mudah menemukan rumah kecil tempatmu menyihir haru kenangan jadi jalinan indah doa-doa di hari datang.
Tapi belum sampai aku di sana, pelangi telah membawaku ke jalan lain penuh lampu-lampu, papan-papan nama beragam tempat yang entah milik siapa. Kau membawa pelangi itu ke hadapanku.
Musim telah memberi jejaknya sendiri pada hari-hari ini. Seakan tak pernah ingkar pada biji bunga yang ingin segera mekar, pada burung-burung yang datang menyebrang awan membangun sarang-sarangnya di pohon tinggi, juga pada kau dan aku, yang merindukan hujan gemericik di antara kaki-kaki kita.
Sungguh senang rasanya menyaksikan malam sambil mendengarmu bercerita. Sesekali memandangmu sembunyi-sembunyi, melihat sinar anggun dari kedua matamu yang memandang jalan dengan lapang. Atau mendengarmu bersenandung, malu-malu, mengikuti nada-nada lagu yang berputar sepelan perjalanan kita tiap bertemu. Saat itu, andai aku lebih berani mungkin akan kuusap pipimu dengan jari-jari kecil ini. Mengatakan dengan pasti bahwa aku siap menemani sepanjang hari yang sepenuhnya milikmu.
Bulan dan bulan, setahun segera lewat, meninggalkan kita dengan aneka malam yang abadi sebagai kenangan. Aku selalu ingin tahu, apakah di tikungan itu akan kutemukan dirimu, apakah di balik pintu gerbang ini akan ada kau yang membuka pintu, ataukah di balik gedung ini akan kutemukan dirimu dengan sebatang korek api yang pernah kita nyalakan bersama waktu dulu.
Saat hari tak sengaja membawamu sampai kemari, mungkinkah kau akan ingat pintu kuning gelap ini. Mawar-mawar di halaman yang tak jemu menunggu musim semi datang. Juga langit kelabu tua yang menyembunyikan kilau muram bulan dan pijar kecil bintang di udara.
Waktu telah mempertemukan kita dalam sebuah musim yang tak terduga, di tengah hujan yang turun perlahan juga langit yang nampak lebih lapang. Waktu juga telah memisahkan kita dalam sebuah musim yang ragu-ragu datang lalu menghilang, di tengah senja yang tak biasa, juga awan-awan yang melukis dirinya sendiri di antara langit biru yang tak menentu.
Ketika kau sampai pada halaman ini, mungkin aku tengah membaca halaman terakhir buku biru dengan tanda tulis tanganmu di bab pertama. Lalu kulihat lagi hujan, jalanan basah, lampu hijau, tulisan selamat datang, senyummu dan peluk mesra itu.
Tapi mungkinkah kau akan sampai pada halaman ini suatu hari?
MERAYAKAN HIDUP, MERAYAKAN KEBERSAMAAN DI KUTA KARNIVAL
Siapa yang tak kenal Kuta dengan keindahan pantainya yang tiada tara? Siapa juga yang tak kenal masyarakat Kuta dengan ragam adat budaya yang tak asing lagi, bahkan di mata dunia. Apa jadinya kalau di sana berkumpul orang-orang dari berbagai belahan dunia dan berpesta pora, bukan sekadar pesta biasa dengan kemewahan yang itu-itu saja, melainkan kesemarakan bersama dengan merayakan hidup, dilatari nuansa pesona matahari tenggelam a la Kuta?
Yang muncul dalam benak kita pastilah deru ombak yang berulang menghantam gugusan karang, juga tiupan angin yang menimbulkan suara-suara yang menyenangkan. Tentu saja yang paling dinanti adalah langit kuning tua di ujung laut biru saat matahari tenggelam di ufuk barat. Dan di sana ada satu yang menarik, unik sekaligus indah. Ya, 7th Kuta Karnival.
Mengambil tema dasar ”A Celebration of Life”, boleh jadi event tahunan ini merupakan satu acara yang paling ditunggu, apalagi di musim liburan seperti sekarang. Saya pun tak sabar agenda apa saja yang kiranya digagas oleh panitia pada tahun ketujuh ini. Terbayang sudah aneka kreasi dan inovasi dari kaum muda yang tergabung dalam Youth Community Event.
Kuta Karnival (Youth Community Event) dan Tantangan Anak Muda di Era Global
Setelah browsing di sana sini akhirnya sampai juga saya di website Kuta Karnival dan The Youth Corner Bali yang turut berpartisipasi meng-handle event anak muda di ajang internasional ini. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, agenda-agenda yang dicanangkan tahun ini memang lebih beragam. Bahkan, ada pula Blog Writing Competition yang digawangi oleh BBC (Bali Blogger Community) serta Lomba Desain Artistik tentang Kuta dan kehidupannya yang semarak. Sudah pasti dengan aneka acara itu, anak-anak muda seantero Bali (juga dari luar dan mancanegara) akan dimanjakan oleh ragam kegiatan yang mengasah sikap kritis dan daya kreatif kalangan remaja ini.
Kuta, boleh jadi merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjungi Bali sebagai Island of Paradise, namun kehadiran Kuta Karnival dapatlah dipandang sebagai spirit yang menghidupkan sekaligus juga turut memeriahkan suasana Kuta yang terkenal indah dan menawan. Yang patut kita cermati adalah tujuan dasar dari penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya berupaya membangkitkan sekaligus juga mendukung peningkatan pariwisata Bali yang mumpuni tetapi juga memberi ruang kepada anak muda untuk mengolah daya kreatifnya dalam berkarya di bidang apa saja. Mulai dari musik, sastra, penulisan kreatif sampai fotografi. Tak ketinggalan pula pameran kartun dan kompetisi-kompetisi yang asyik dan menarik. Dengan demikian, boleh jadi Kuta secara khusus, dan Bali pada umumnya tidak hanya dikenal sebagai pulau dengan keindahan alam dan keluhuran budayanya tetapi juga kekreatifan dan keadiluhungan karya-karya generasi mudanya.
Di tengah gencarnya arus lintas budaya di Bali, tidaklah salah apabila perlu pendekatan tersendiri agar budaya lokal, local genius, tidak luruh bahkan hilang begitu saja. Kita tidak dapat menolak kenyataan bahwa Bali merupakan ikon pariwisata internasional. Dengan demikian, disadari atau tidak, Bali dan masyarakatnya telah berhadapan langsung dengan dunia global dan internasional. Demikian pula beragam budaya asing yang masuk bersilangan dengan tradisi budaya lokal, yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad silam. Tantangan selanjutnya tentu saja bagaimana mengupayakan suatu pendekatan baru utamanya pada generasi muda untuk tetap mempertahankan local genius itu tapi tetap menjadi bagian dari dunia global yang modern.
Kuta Karnival, barangkali merupakan suatu jawaban atas tantangan itu. Di era kini, dimana percepatan perubahan merupakan suatu hal yang tak terelakkan, sudah sepatutnya dibangun sebuah ruang yang memungkinkan kaum muda mengembangkan kreasinya sekaligus juga mengkritisi pengaruh global, yang tidak selamanya membawa akibat baik yang positif bagi perkembangan masyarakat lokal.
Jika kita cermati, tidak jarang, budaya-budaya luar yang datang bersamaan dengan kemudahan akses informasi karena kemajuan teknologi, bertentangan dengan khazanah budaya kita yang luhur dan mengedepankan empati dan kreativitas. Di sisi lain, kemudahan-kemudahan yang tiada batas itu, selain memberi keuntungan dan kebaikan yang tak terhingga dalam keseharian, juga menimbulkan suatu dampak sampingan, yang sayangnya bersifat negatif. Kemudahan-kemudahan itu lama kelamaan membentuk suatu mentalitas baru utamanya bagi kaum muda, yakni budaya instant dan konsumtif yang mengarah pada hedonisme.
Bayangkan, jika remaja di Bali khususnya, hanya menjadi golongan-golongan konsumen pasar yang mengandalkan kemudahan-kemudahan, tanpa berkeinginan sekaligus berkemampuan untuk mengembangkan kreativitas yang produktif. Apa jadinya Bali? Mungkin saja pandangan intelektual yang menyatakan bahwa masyarakat Bali akan menjadi budak di tanah sendirinya akan menjadi kenyataan yang menyedihkan juga menyakitkan.
Lalu, pertanyaan selanjutnya, apa kiranya upaya yang mampu kita lakukan bersama? Saya pikir, Kuta Karnival dengan serangkaian kegiatannya merupakan salah satu penyanding yang tepat untuk menyikapi kecendrungan dewasa ini. Barangkali agenda-agenda serupa, jika dilaksanakan secara berkesinambungan dan dengan kegiatan yang jauh lebih beragam dan semarak, harapan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik di masa mendatang tentu akan terwujud. Jadi, ayo kita ambil andil dan turut berpartisipasi. Kalau bukan kita yang memulainya, siapa lagi. Dari remaja, oleh remaja, untuk Bali tercinta. Bravo!
09.14.09
*Ekspresi Katarsis dan Penyadaran yang Puitis
Sebelum membaca kumpulan puisi “Selepas Bapakku Hilang” karya Fitri Nganthi Wani ini, saya tak pernah membayangkan bagaimana kiranya seorang gadis mampu melewati masa kanaknya dengan problema yang begitu kompleks seperti yang dialami Wani. Ia ditinggal sang ayah ketika duduk di kelas 2 SD dengan cara yang tidak biasa. Sang ayah pergi (atau dipaksa pergi) dan tak kembali hingga kini.
Saya memang pernah mendengar kejadian-kejadian seputar tahun 96-98, di mana gejolak politik dalam negeri akibat kekukuhan sebuah rezim terhadap masyarakatnya mengakibatkan kekacauan yang meluas juga menyengsarakan rakyat. Ujung-ujungnya terjadi penindasan terhadap masyarakat yang mencoba memperjuangkan keadilan dan hak-hak yang selama ini seharusnya mereka peroleh dan nikmati. Baru kali inilah saya berhadapan langsung dengan seorang gadis remaja seusia saya, yang dipaksa melewati masa kanaknya tanpa kehadiran sosok ayah, yang menjadi korban rezim justru karena kecintaannya pada rakyat kecil, yang ia tegaskan dalam karya-karya kreatifnya.
Sebagai anak seorang Wiji Tukul, penyair yang kesohor karena kelugasan dan ketulusannya mengkritisi sebuah rezim yang dipandang lalim, dan tidak diketahui kabarnya hingga hari ini, tentulah tak mudah bagi Wani untuk melalui masa kanaknya. Saya yakin ia tentu mengalami trauma-trauma yang tidak biasa dialami oleh anak perempuan seusianya. Ketakutan atas penggrebegan di rumahnya ketika ia masih berumur 7 tahun, kemudian hilangnya sosok ayah yang bahkan hingga kini tak jelas kabar beritanya, perlakuan tak adil dari lingkungan sekitarnya karena dianggap anak dari seorang yang subversif dan bermasalah dengan pemerintah, juga persoalan ekonomi yang melulu mendera keluarganya. Ya, setelah kejadian penggrebegan itu berlalu, pastilah Wani dan keluarganya tidak hanya menderita karena kehilangan pemimpin keluarga. Mereka juga harus berhadapan dengan stigma negatif, sindiran, intimidasi, juga pengekangan dari pemerintah dan masyarakat sekitarnya.
Meminjam pendapat Nalini Muhdi, tidakkah pembentukan citra diri anak-anak itu telah tercederai, bahkan dalam upayanya mendapatkan hak – hak kehidupan normal? Ditambah lagi, karena suatu alasan tertentu mereka tumbuh dengan perasaan kosong, teralienasi, dan merasa tidak dicintai.
Pertemuan Wani dengan puisi sejak ia kanak, tentulah merupakan obat yang paling mujarab (terapi terbaik) untuk menandingi kecendrungan di atas. Dengan puisi ia kemudian tidak hanya mengungkapkan perasaan terdalamnya terhadap aneka kejadian yang menimpa diri dan keluarganya. Ia pun tak berlarut-larut dalam kepedihan, putus asa, juga perasaan tak berdaya. Malah dengan puisi, menurut Barbara Hatley, Wani telah menjadi seorang seniman feminis. Dengan ekspresi yang langsung, argumen yang terarah dan terkendali, Wani dipandang mampu menyuarakan problematika kekinian gadis remaja. Persoalan keseharian yang sederhana, hingga masalah-masalah sosial semisal bias gender, tema-tema seksualitas, krisis sosial multidimensi dalam negeri, pencarian terhadap spiritualitas serta tema-tema yang seakan begitu berjarak dengan kehidupan remaja seusianya.
Puisi-puisi tersebut memiliki nuansa pemberontakan dan keberanian menyatakan diri dalam bahasa yang lugas. Kata-katanya memang terkesan sederhana, tetapi juga indah, meski seringkali mengisahkan kekerasan, pemerkosaan, kemarahan juga hujatan. Mungkin bolehlah kita berpendapat bahwa Wani mewarisi keberanian dan kesanggupan Wiji Tukul, sang ayah, untuk mengkritisi persoalan keseharian yang biasa hingga masalah-masalah sosial yang kompleks dengan caranya sendiri, yakni kesegaran masa remaja. Dengan kata lain, meski ia menyoroti persoalan-persoalan yang tidak melulu perihal cinta dan dunia sekolah ala gadis remaja, ia tetap tidak kehilangan gairah muda yang segar, unik namun tetap alamiah.
Dalam pengantarnya, Richard Curtis menyatakan bahwa puisi-puisi yang terkumpul dari SD hingga Wani SMA bergulat antara dua kecendrungan, yakni Wani yang berusaha tegar dan melanjutkan hidupnya di masa depan, serta Wani yang tetap ‘diikuti’ oleh masa lalunya yang penuh trauma. Sangat jelas terlihat upaya pencarian identitas yang tak pernah berhenti. Di sisi lain, ia juga mencermati persoalan spiritualitas, perihal batin dan jiwa yang berhubungan dengan kerohanian.
Dari sajak-sajaknya itu pula, saya melihat sosok yang nasionalis juga humanis dari seorang Wani. Banyak hal yang membuatnya prihatin. Barangkali kehidupan masa kanaknya di Sanggar Suka Banjir telah menjadi peletak dasar sikapnya ini. Ia terbiasa menyuarakan keprihatinannya, juga berespon aktif terhadap kejadian di lingkungannya, semisal banjir. Dari sanalah kiranya rasa empati itu tumbuh.
Ketika membaca sajak-sajak ini saya cukup terkejut dengan satu puisi terakhir “Lelah”. Ada kedalaman perasaan sekaligus juga pertanyaan mendasar mengenai hidup dan kehidupan. Semua kejadian yang ia alami seakan bermuara di puisi ini. Kerinduan pada ayahnya juga keinginan yang kuat untuk tidak terikat kepedihan masa lalu tetapi dengan gagah berani menantang hari depan. Pergulatan-pergulatan itu seolah tak pernah selesai bagi Wani.
Octavio Paz dengan lugas mengatakan puisi sesungguhnya adalah usaha untuk melakukan ziarah kepada sejarah. Sedang Pascale Casanova berpandangan sastra muncul sebagai produk sebuah proses historis, lalu tumbuh secara progresif menjadi lebih otonom. Dalam hal ini, puisi-puisi Wani merupakan produk dari sebuah kejadian masa lalu yang tumbuh dan berkembang secara terus menerus tidak hanya sebatas ekpresi dan eksplorasi kedalaman perasaan atas refleksi masa lalu itu, tetapi juga sebuah ziarah kepada masa lalunya. Ziarah ini kemudian menjadi ruang renung, yang memungkinkan siapa saja untuk mengenali sekaligus mencoba memahami kejadian di balik puisi-puisi yang dicipta Wani.
Buku ini bukanlah sekadar dokumentasi yang paling esensi dari seorang Wani, lebih dari itu buku ini merupakan penanda sekaligus pengingat bagi kita semua bahwa kita mesti “melawan lupa”. Sudah sepatutnyalah kehadiran buku ini kita maknai bersama tidak hanya sebatas ekspresi katarsis semata melainkan juga sebagai sebuah tawaran penyadaran yang lebih luas untuk semua pihak. Sebab karya sastra, utamanya puisi, memberi ruang renung yang tiada batas untuk itu, sehingga tiap orang baik pelaku maupun korban mendapat kesempatan untuk merenungi sekaligus memaknai kejadian masa lampau. Dan akhirnya, tragedy ini tak akan kembali terulang, dalam bentuk apapun di masa mendatang.
*disampaikan pada launching buku “Selepas Bapakku Hilang” di Taman 65, Jumat 11 September 2009
09.10.09
Asma
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Definisi / Pengertian
Asma adalah penyakit jalan napas obstruksi intermiten reversible dimana trakea dan bronki berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu, dimanifestasikan dengan penyempitan jalan napas, yang mengakibatkan dispnea, batuk, dan mengi (Smeltzer, 2002 : 611).
Asma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus (Huddak & Gallo, 1997).
Asma adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif (Reeves, 2001 : 48).
2. Epidemiologi / Insiden Kasus
Sekarang asma adalah penyakit kronis yang paling umum pada anak-anak, mempengaruhi satu dari setiap 15 anak. Di Amerika utara, 5% dari orang dewasa juga dirundung oleh asma. Keseluruhannya, kira-kira 1 juta orang Kanada dan 15 juta orang Amerika yang menderita dari penyakit ini.
Angka dari kasus-kasus baru dan angka tahunan dari opname rumah sakit untuk asma telah meningkat 30% selama 20 tahun belakangan ini. Bahkan dengan kemajuan dalam perawatan, kematian-kematian karena asma diantara orang-orang muda sudah lebih dari berlipat ganda.
3. Penyebab / Faktor Predisposisi
(a) Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)
- Reaksi antigen-antibodi
- Inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)
(b) Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi)
- Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal
- Fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur
- Iritan : kimia
- Polusi udara : CO, asap rokok, parfum
- Emosional : takut, cemas dan tegang
- Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.
(Suriadi, 2001 : 7)
4. Patofisiologi Terjadinya Penyakit
Asma adalah obstruksi jalan nafas yang disebabkan oleh kontraksi otot-otot yang mengelilingi bronki, pembengkakan membran yang melapisi bronki, pengisian mukus kental. Akibatnya beban alveoli menjadi meningkat dan dinding alveoli menebal serta menjadi hiperinflasi pada alveoli. Hal ini menyebabkan udara terperangkap di dalam jaringan paru (CO2 terjebak di dalam darah, O2 tak bisa masuk), inilah yang menyebabkan obstruksi saluran nafas. Pada beberapa individu, system imunologis mengalami kelainan sehingga mengalami respon imun yang buruk, di mana IgE menyerang sel-sel mast (yang bertugas memfagosit sel-sel radang kronis) dan menyebabkan reaksi antigen-antibodi. Hal ini menyebabkan proses mediator kimiawi yaitu pelepasan dari produk-produk sel mast, seperti histamine, bradikinin, prostaglandin, dan anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan – pelepasan tersebut mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas sehingga menyebabkan bronkospasme. System saraf otonom mempengaruhi paru. Tonus otot bronkial diatur melalui saraf parasimpatis. Ketika ujung saraf pada jalan nafas dirangsang infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi, polutan, maka jumlah asetilkolin menjadi meningkat. Peningkatan tersebut menyebabkan bronkokonstriksi dan juga merangsang pembentukan mediator kimiawi. Sedangkan saraf simpatis terletak di dalam bronki, terdapat reseptor α- dan β- adrenergic. Keseimbangan reseptor-reseptor tersebut diatur oleh siklik adenosine minofosfat (cAMP). Jika reseptor α- distimulasi maka cAMP menjadi menurun dan menyebabkan peningkatan mediator kimiawi serta menyebabkan bronkokonstriksi. Sedangkan reseptor β- jika distimulasi maka cAMP meningkat, terjadilah penurunan mediator kimiawi dan menyebabkan bronkodilatasi.
Kurang informasi
5. Klasifikasi
a. Berdasarkan Penyebab
1) Asma alergik : disebabkan oleh alergen – alergen yang dikenal (misal : serbuk sari, binatang, makanan, amarah, jamur).
2) Asma idiopatik atau non alergik : tidak berhubungan dengan alergen spesifik, faktor penyebab : perubahan cuaca, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, pemakaian obat.
3) Asma idiopatik dapat berkembang menjadi bronkitis kronis dan empisema.
4) Asma gabungan : merupakan bentuk asma yang paling umum, mempunyai karakteristik dari bentuk alergik maupun idiopatik (non alergik).
b. Berdasarkan tingkatan asma
1) Tingkat I :
a) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium.
2) Tingkat II :
a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3) Tingkat III :
a) Tanpa keluhan.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
4) Tingkat IV :
a) Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
5) Tingkat V :
a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.
b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel.
Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :
Kontraksi otot-otot pernafasan, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi.
6. Gejala Klinis
Dispnea berat (sesak nafas)
Retraksi dada
Napas cuping hidung
Wheezing
Pernapasan yang dalam dan cepat
Ekspirasi dalam dan lambat karena udara yang ditangkap terperangkap karena spasme dan mucus.
Berlangsung selama 1 jam sampai beberapa jam (kasus biasa), dapat reda dengan spontan atau terapi bronkodilator.
Batuk produktif, sering pada malam hari
7. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan persistem yang diprioritaskan pada bagian thorax.
Pada thorax :
- Inspeksi : Mengamati gerakan untuk menunjang inspeksi
- Palpasi : bentuk dada, otot yang bekerja
- Auskultrasi : Mengetahui apakah ada suara bising (wheezing/mengi pada bronki)
- Perkusi : Untuk memgamati adanya cairan atau tidak pada cavum pleura
Kulit thorak kering, muka pucat, bibir kering
8. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Darah (terutama eosinofil, Ig E total, Ig E spesifik)
Sputum (eosinofil, spiral curshman, kristal charcot – leyden)
b. Radiologi
Tes fungsi paru dengan spirometri/peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan nafas.
Thorax photo didapatkan penyempitan bronkus spasme.
9. Diagnosis Kriteria
a. Ringan : Denyut nadi 60 %)
b. Sedang : Denyut nadi 100 – 120/menit, (APE 40 – 60 %)
c. Berat : Denyut nadi > 120 /menit, (APE < 40 % atau 100/menit)
10. Terapi / Tindakan Penanganan
Yang termasuk obat antiasma adalah :
a. Bronkodilator
1) Agonis β 2
Obat ini mempunyai efek bronkodilatasi. Terbutalin, salbutamol, dan feneterol memiliki lama kerja 4 – 6 jam, sedangkan agonis β 2 long-acting bekerja lebih dari 12 jam, seperti salmeterol, foemoterol, bambuterol, dan lain – lain. Bentuk aerosol dan inhalansi memberikan efek bronkodilatasi yang sama dengan dosis yang jauh lebih kecil yaitu sepersepuluh dosis oral dan pemberiannya lokal.
2) Metilxantin
Teofilin termasuk golongan ini. Efek bronkodilatornya berkaitan dengan konsentrasinya di dalam serum. Efek samping obat ini dapat ditekan dengan pemantauan kadar teofilin serum dalam pengobatan jangka panjang.
3) Antikolinergik
Antiinflamasi menghambat inflamasi jalan nafas dan mempunyai efek supresi dan profilaksis.
4) Kortikosteroid
Natrium kromolin (sodium cromoglycate) merupakan antiinflamsi nonsteroid.
b. Antiinflamasi
Terapi asma dapat dibedakan berdasarkan beratnya serangan asma :
Beratnya Serangan Terapi Lokasi
RINGAN
• Aktivitas hampir normal
• Bicara dalam kalimat
penuh
• Denyut nadi 60 % )
Terbaik :
Agonis β – 2 isap (MDI) 2 isap boleh diulangi 1 jam kemudian / tiap 20 menit dalam 1 jam.
Alternatif
- Agonis β – 2 oral / 3X > – 1 tablet (2 mg) oral.
- Teofilin 75 – 150 mg.
- Lama terapi menurut kebutuhan.
Di rumah
SEDANG
- Hanya mampu berjalan jarak dekat.
- Bicara dalam kalimat terputus – putus.
- Denyut nadi 100 – 120 / menit.
- APE 40 – 60 %.
Terbaik
Agonis β – 2 secara nebulisasi 2,5 – 5 mg, dapat diulangi sampai dengan 3 X dalam 1 jam pertama dan dapat dilanjutkan setiap 1 – 4 jam kemudian.
Alternatif
- Agonis β – 2 i.m / adrenalin s.k.
- Teofilin i.v 5 mg / kg BB / i.v pelan – pelan.
- Steroid i.v / kortison 100 – 200 mg, i.m deksametason 5 mg i.v.
- Oksigen 4 liter / menit
Puskesmas
Klinik Rawat Jalan
Unit Gawat Darurat
Praktek dokter umum
Di rawat RS bila tidak respons dalam 2- 4 jam
BERAT
- Sesak pada istirahat.
- Bicara dalam kata – kata terputus.
- Denyut nadi > 120 L/menit.
- APE < 40 % / 100 L/menit.
Terbaik
- Agonis β – 2 secara nebulisasi dapat diulangi sampai dengan 3 kali dalam 1 jam pertama, selanjutnya dapat diulangi setiap 1 – 4 jam kemudian
- Teofilin i.v dan infuse
- Steroid i.v dapat diulangi / 8 – 12 jam
- Agonist β – 2 s.k / i.v / 6 jam
- Oksigen 4 L/menit
- Pertimbangkan nebulisasi ipratorium bromide 20 tetes
Unit Gawat Darurat
Rawat bila tidak respon dalam 2 jam maksimal 3 jam.
Pertimbangkan rawat ICU bila cenderung memburuk progresif.
MENGANCAM JIWA
- Kesadaran menurun
- Kelelahan
- Sianosis
- Henti napas
Terbaik
- Lanjutkan Terapi sebelumnya
- Pertimbangkan intubasi dan ventilasi mekanik
- Pertimbangkan anastesi umum untuk terapi pernafasan intensif.Bila perlu dilakukan kurasan bronko alveolar (BAL)
09.08.09
Confuse…
Saya tak pernah tahu begitu banyak yang telah ia lakukan untuk saya. Setelah dia pergi hanya bisa menyesali.
Hm, saya jadi percaya usia seseorang punya pengaruh yang luar biasa dalam proses menjadi mature secara batin, secara jiwa, dan mungkin saya memang belum sampai pada tahap itu.
Yah, ada kalanya saya merasa sungguh-sungguh naif, dan ketika menyadarinya saya merasa sangat muak pada diri sendiri. Lalu kembali saya tenangkan diri sambil berujar dalam hati bahwa ini semua adalah proses, yang mau tak mau mesti dilewati.
KEEP MOVING>>>>>)
08.27.09
Sikap Kritis dan Motivator
Kita tentu sepakat bahwa zaman memang telah berubah. Kini, Bung Umbu telah berusia lebih dari separuh abad. Ia, dengan rubrik puisi mingguan di Bali Post, masih tetap intens menyebarkan benih-benih puisi khususnya pada generasi muda. Selama puluhan tahun, dedikasinya pada dunia susastra tentu tidak dapat dipungkiri lagi. Sederet nama sastrawan, budayawan dan penyair yang mumpuni muncul karena persentuhan kreatifnya dengan Bung Umbu. Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah, pola-pola macam apa kiranya yang diterapkan oleh Bung Umbu? Lalu, apakah pola-pola tersebut akan berhasil jika diterapkan di era kini, ketika percepatan perubahan merupakan keniscayaan yang tak tertolak?
Jika kita mencermati fenomena dunia susastra masa kini, sangat jelas terlihat maraknya kemunculan komunitas-komunitas sastra, utamanya di dunia maya. Para anggotanya begitu bersemangat menulis. Terbukti, tiap harinya selalu ada tulisan-tulisan baru yang diposting via blog ataupun facebook. Karya-karya mereka sungguh beraneka, mulai dari menceritakan pengalaman sehari-hari, sampai pada telaah serius mengenai sastra, ataupun pandangan mengenai peristiwa aktual yang nasional maupun global. Banyak karya seperti puisi, cerita-cerita pendek, yang menunjukkan bahwa betapa seriusnya mereka bersastra.
Saya percaya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini merupakan anugrah untuk kita semua. Kecanggihan teknologi memberikan ruang kemungkinan yang tiada batas untuk berekspresi dan mengeksplorasi diri, khususnya di dunia susastra. Begitu banyak media yang dapat menjadi wadah aspirasi sekaligus menginspirasi publik lainnya untuk turut melakukan upaya serupa. Hal ini tentu sangat berbeda pada era Bung Umbu ketika di Jogja. Untuk dapat dimuat di media-media, semisal surat kabar, perlu perjuangan yang tidak bisa dikatakan mudah karena ada proses seleksi yang ketat dari redaktur medianya. Sedangkan sekarang, cukup log in di facebook atau membuat account di wordpress dan blogspot, kita dapat mengenalkan karya kita sekaligus juga memperoleh komentar dari publik luas.
Akan tetapi, kita masih harus mencermati apakah kemunculan para penggemar sastra yang membentuk komunitas-komunitas sastra ini juga mencerminkan bertambahnya harapan bahwa sastra, yang dipercaya mampu memberikan pencerahan pada masyarakat, tidak lagi dianggap sebagai benda sakral yang layak dimuseumkan, dengan kata lain, sastra mulai diterima oleh publik luas. Pertanyaan lebih jauhnya lagi adalah, apakah kemudahan akses informasi karena kecanggihan teknologi yang dibarengi dengan bertambahnya jumlah komunitas sastra ini juga menunjukkan bahwa kualitas sastra Indonesia juga telah berkembang menjadi lebih cerdas dan bernas, serta mampu secara kritis mencermati kecendrungan sosial masa kini?
Saya mungkin tak dapat menjawab pertanyaan itu secara tepat juga memuaskan. Yang terpenting menurut oleh pikir saya, kemunculan komunitas sastra juga harus dibarengi oleh kelahiran karya-karya yang mumpuni, yang cerdas serta mampu menyikapi problematika era kini. Peran motivator seperti Bung Umbu, yang mencurahkan seluruh energinya untuk dunia susastra, tentulah merupakan anugrah tetapi juga harus dibarengi dengan sikap kritis, sehingga keberadaan Bung Umbu dapat memotivasi kita, yang muda-muda untuk menjadi lebih kreatif dalam berkarya. Selamat berkarya untuk kita semua.
Pemimpin Muda Masa Depan
Di masa mendatang, sudah dipastikan generasi mudalah yang akan mengemban tugas memimpin Negara, baik pada tingkat daerah maupun nasional. Oleh karena itu, siapapun berpandangan (tidak hanya kalangan intelektual, akademisi, tetapi juga profesional) diperlukan suatu upaya yang berkesinambungan untuk mempersiapkan generasi-generasi penerus yang cakap dan mumpuni demi mewujudkan suatu tatanan kehidupan kebangsaan yang sejahtera dan berkeadilan sesuai dengan tujuan nasional yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945.
Di sisi lain, globalisasi selain menawarkan beragam kemudahan lewat perkembangan teknologi yang kian canggih serta kemajuan peradaban yang semakin mapan, tidak dapat dipungkiri juga menyimpan suatu ancaman serius terhadap kelangsungan kehidupan kebangsaan, utamanya terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Mengapa demikian?
Disadari atau tidak, globalisasi yang dibarengi dengan arus modernisasi yang tak terkendali telah membawa nilai-nilai budaya luar, yang seringkali bertentangan dengan segenap nilai-nilai budaya nusantara, yang mengedepankan keluhuran dan etika komunal yang penuh empati dan toleransi. Hal ini akan memungkinkan berubahnya kepribadian bangsa yang sebelumnya mengutamakan asas kepentingan bersama, berubah menjadi individu-individu egoistis yang hanya memikirkan kepentingan personalnya, bahkan cenderung hedonis.
Selain itu, kita tak dapat menolak kenyataan bahwa kesadaran persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan nusantara perlahan-lahan memudar. Tentu kita masih ingat bagaimana Timor Timur melepaskan diri dari NKRI, kemudian persoalan GAM yang melulu mendera keutuhan negara kita hingga penghujung tahun kemarin. Belum lagi, beragam permasalahan serupa di berbagai daerah yang mengarah pada disintegrasi bangsa.
Kita memang tidak dapat memungkiri bahwa sebagai Negara Kesatuan, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas 17.504 pulau yang mengandung beragam pesona dan kekayaan yang tiada tara. Ditambah lagi, berbagai suku bangsa dengan ragam adat dan budaya yang berlainan hidup berdampingan di dalamnya. Tidak salah kiranya, ada perasaan “berbeda” antar satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya. Oleh sebab itu, mesti ada sentuhan tersendiri untuk meredam konflik sosial yang akhirnya akan mengancam keutuhan NKRI.
Kenyataan-kenyataan tersebut di atas merupakan tantangan yang luar biasa, utamanya bagi generasi muda, yang nantinya harus menjadi tulang punggung keberlangsungan bangsa. Berkenaan dengan hal itu, upaya-upaya pemberdayaan kaum muda menjadi hal yang krusial untuk sesegera mungkin dilaksanakan dan ditingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitas.
LKMM, sebagai sebuah kegiatan latihan kepemimpinan untuk kalangan muda, sudah tentu harus diapresiasi secara menyeluruh oleh semua pihak. Program ini, dalam pandangan saya, mestilah menjadi ajang kaum muda untuk berkreasi sekaligus mencermati pola-pola kepemimpinan yang sesuai dan diperlukan untuk menghadapi kompleksitas persoalan bangsa. Dari sinilah kiranya akan muncul beraneka pemimpin-pemimpin muda yang handal dan terpercaya, serta mengedepankan semangat kebersamaan yang penuh empati dan toleransi untuk membawa kemajuan dari tingkat daerah hingga nasional, yang pada akhirnya membawa kemajuan nusantara hingga ke jenjang internasional.
Oleh karena itulah, saya sungguh berbesar hati dengan adanya agenda-agenda dalam LKMM tahun ini. Saya pun berharap, keikutsertaan para mahasiswa akan dapat membawa perubahan, pada mulanya di lingkungan kampus, kemudian akhirnya sampai menyentuh pada publik luas. Bagi saya, dedikasi dan daya juanglah yang akan membawa suatu perubahan ke arah kebaikan. Semoga melalui LKMM tahun ini, dan tahun-tahun selanjutnya, tidak hanya lahir pemimpin-pemimpin cerdas tetapi juga memiliki kepedulian dan sikap kreatif dalam menanggulangi beraneka persoalan mulai dari tingkat universitas kemudian masyarakat umum. Bravo Pemimpin Muda!
08.19.09
Saat Sakit
Selain tidur apa yang dapat kulakukan. Memandang garis-garis warna di dinding, sembari mengenang masa kanak, boneka coklat dan merah muda, pita-pita cerah yang terserak begitu saja, potret nakal dengan senyum ceria yang seakan tak pernah mengenal duka.
Lalu kulihat diriku yang kini terbaring, mencari hangat di balik selimut biru muda. Kulihat wajah lugu masa kecil dulu dalam cermin persegi mini. Ada warna lain di sana, ada gurat yang berbeda. Mungkin waktu melukis sesuatu di sana, entah tentang apa.
Sepertinya dulu ada bunga-bunga di sana. Dan aku berlarian, berlomba dengan kupu-kupu yang selalu saja meninggalkanku. Kadang mereka hinggap di salah satu bunga kuning muda, kadang mereka mendekatiku yang kelelahan, memanggil-manggil. Tapi aku tak punya sayap. Aku bukan mereka. Lalu aku mulai lupa sungguhkah bunga-bunga itu pernah ada.
Selain tidur apa yang dapat kulakukan. Hari-hari lewat dan aku berbaring begini saja. Di jendela cahaya berubah selalu, kuning cerah, jingga muda, kelabu muram, dan gelap pekat.
Tapi di kamarku hanya ada warna biru, selalu biru, yang mirip dirimu saat melambai di depan gerbang rumahku. Kurindukan saat itu, yang telah berlalu, entah berapa hari yang kelu.
Kurindukan selalu hujan yang pernah membawamu kemari.
Hari ke IV
5 Agustus 2009
Hari ini kami berencana mengunjungi Museum Nasional. Dua hari yang lalu, setelah berkeliling Monas, kami berniat melihat-lihat ke dalam museum ini. Sayangnya, hari Senin museum ini tidak dibuka. Saya sempat melihat sekilas, jam buka museum adalah dari jam 9 pagi hingga 4 sore. Harga tiket untuk anak-anak 250 sedangkan 750 untuk orang dewasa.
Sekitar pukul setengah sebelas kami sampai di depan Mahkamah Konstitusi. Dan ternyata saat itu, terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Pemilu. Mereka menyatakan bahwa SBY adalah Presiden yang sah, pilihan rakyat.
Hari mulai terik. Kegerahan membuat saya merasa tak nyaman. Lalu saya tergoda membeli semangka di pinggir jalan. Huah, rasa manis yang menyegarkan itu membuat saya sedikit tenang.
Sampai di museum, kami diwajibkan membeli tiket dan menitipkan ransel yang kami bawa. Setelah mengambil barang-barang yang saya anggap berharga, segera saja saya melenggang ke ruangan bagian dalam. Namun sangat disayangkan, kami tidak boleh membawa kamera dan handycam. Padahal, sudah berniat untuk mengabadikan koleksi museum bersejarah ini.
Lantai demi lantai kami susuri perlahan-lahan. Di lantai satu kami melihat aneka keramik baik dari nusantara maupun luar negeri semisal China. Saking banyaknya ragam bentuk dan corak keramik tersebut, saya tak melihat tulisan pengantar yang terpasang. Rasanya satu hari tak akan cukup melihat harta berharga nusantara ini. Di lantai yang sama kami melihat arca-arca zaman kerajaan. Mulai dari arca para raja hingga perwujudan dewata yang coba diekspresikan seniman kala itu melalui arca-arca ini.
Adapula halaman yang terletak di bagian tengah yang dikitari dengan arca-arca yang lebih beraneka.
Di bagian lain kami melihat ragam adat dan budaya berbagai daerah di nusantra. Mulai dari pakaian adat, peralatan keseharian, hingga miniatur rumah adat. Saya mencari-cari dimana kiranya budaya Bali ”dipajangkan”. Setelah melihat-lihat akhirnya saya temukan juga. Hm, rasa rindu sedikit melintas di hati saya.
Naik ke lantai 2 kami melihat tempat pameran harta bangsa berupa emas dan permata. Sungguh menakjubkan, cincin, gelang kalung hingga senjata-senjata dan peralatan hidup sehari-hari.
Hm, baru 2 lantai tapi kaki ini rasanya sudah begitu pegal, hampir 2 jam kami berjalan, dan ketika melihat sebuah kursi langsung saja saya dan kawan-kawan melepas lelah sejenak di sana. Minuman yang tadi saya bawa di tas tak boleh dibawa masuk. Mana ada orang minum di tengah museum.
Setelah merasa agak baikan kami segera menyusur bagian lain museum, ternyata di sisi satunya museum terlihat lebih modern. Mulai dari lantai, tembok, dan atapnya, semua serba modern namun tetap elegan dengan gaya minimalis yang membuat saya terkesan.
Segera saja kami melangkahkan kaki ke sana. Kehidupan pra sejarah terbentang di hadapan kami. Saya agak merinding ketika melihat kuburan manusia purba lengkap dengan kerangka tubuh setengah utuh.
Karena lantai paling atas ternyata menyimpan benda-benda bersejaran yang serupa dengan yang kami lihat di bangunan yang lebih ”tua”, maka kami bergegas saja. Selain lelah, kami juga merasa lapar. Jam makan siang telah lewat 3 jam yang lalu. Tak terasa memang.
Di perjalanan pulang, kami mendapat sebuah tabloid Warta Kesra. Alangkah senangnya, terdapat artikel berjudul “Bali, Pulau Terbaik Dunia 2009”. Kembali terbersit kerinduan pada kampung halaman. Penghargaan ini dinobatkan oleh Majalah Pariwisata Internasional, Travel and Leisure. Tahun lalu, peringkat terbaik diduduki oleh Pulau Galapagos, Ekuador. Nah, tahun ini, kedua pulau tersebut bertukar posisi.
Malam harinya, kami mengikuti acara pemutaran film dokumenter mengenai kehidupan masyarakat Indonesia di era peralihan Orde Baru menuju Era Reformasi “In The Eye of The Day” karya Helmrich, sutradara kelahiran Belanda (maaf kalau ada salah ucap). Film ini dikemas demikian rupa hingga kita merasa melihat kehidupan kita sendiri di dalamnya. Bagaimana sebuah keluarga berupaya lepas dari belenggu krisis sekaligus juga bertahan dari segala konflik sosial yang mendera.
Siapapun yang menonton film ini pasti terkesan dengan tiap kisah yang coba dimunculkan dalam gambar-gambar puitik ini.
Mulai dari kilasan peristiwa 1998 sampai pada era Pemilu 21 Juni 1999. Semuanya dirangkum dalam potongan-potongan kehidupan beberapa keluarga yang hidup di masa transisi tersebut.
Yang mungkin menjadi pertanyaan orang-orang yang menontonnya adalah, bagaimana kiranya proses editing film tersebut.
Menurut sang sutradara terdapat 200 jam film hasil syuting yang ia lakukan selama kurang lebih setahun tersebut. Ia menyatakan bahwa dalam proses tersebut, unsur rasa menjadi sangat berperan. Tahapan kerja inilah yang menurutnya menjadi yang paling sulit. Di satu sisi, ada tuntutan keutuhan sebuah film, namun di sisi lain, sang sutradara tidak dapat mengabaikan “keegoisannya” untuk menceritakan ragam peristiwa dalam gambar-gambar yang ia dapatkan. Hasil dari pergulatan Arnold tersebut akhirnya melahirkan film ini.
Ada upaya untuk menggunakan simbol agar film ini terasa lebih “hidup”. Kesan yang muncul adalah gambaran yang puitikal dan dramatik sekaligus multi tafsir. Misalnya saja, usai kilasan peristiwa 98, saat demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa, muncul gambar bebek. Karena yang difadeout adalah gambar seorang tentara ditengah ”serbuan” mahasiswa, maka bisa saja penonton menafsirkan tentara tersebut layaknya bebek yang mesti digiring kemana-mana. Namun bisa juga penonton berpandangan bahwa yang diibaratkan bebek justru mahasiswa. Tapi tidak salah juga jika ada sebagian penikmat film ini yang akan berpendapat bahwa si tentara sedang memikirkan kampung halamannya, saat dimana ia memelihara bebek dan menggiringnya mencari makan menelusuri desa.
Adapula gambaran dua ekor kucing, satu berkaki pincang, mengasi-ngais tumpukan sampah, kemudian muncul dua orang suami istri yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Tempat tinggalnya pun di sekitar tempat pembuangan itu.
Film ini ditutup dengan adegan yang cukup menarik. Si tokoh menerbangkan burung burung merpati di atas atap rumahnya, sembari melepas baju untuk digunakan menghalau burung-burung itu. Dari sana kita juga disuguhkan gambaran perumahan rakyat kecil yang terdesak di antara gedung-gedung besar khas ibukota.
Usai acara diskusi, kami sempat memberikan buku kumpulan tulisan kami padanya. Lalu, dengan sedikit berkelakar teman saya bertanya, ”Adakah ide membuat film tentang Bali?”. ”Absolutely yes”, ujarnya mantap.
08.11.09
Bulan Keenam, Hari Sabtu yang Lalu
Apa arti bulan keenam ini. Kali terakhir kita menyusur jalan dulu ataukah hanya waktu, melulu waktu yang tak menentu.
Kini aku di tempat yang dulu. Berdiri memandang langit yang diam-diam menyusupkan kenangan ke dalam diriku. Dan selalu ada tawamu di situ.
Hujan malam itu ternyata tak lagi pernah membuat kau dan aku gigil lalu mencoba menyesap hangat masing-masing. Sebab hari telah berganti baru.
Kau tak perlu hujan untuk mengingatkanmu pada gadis kecil yang mencoba riang ini. Kau juga tak perlu mengulurkan tangan untuk menyambut ia yang gagu di depanmu. Kau kini kupu-kupu, melepas bebas mengitari langit, meski tanpa warna biru.
Apa arti bulan keenam ini. Aku hanya mengenang kedatangan tanpa mampu melepas ingatan tentang perpisahan. Tapi aku dan kau sama-sama tahu, ada seseorang disana yang akan membuka pintu untukmu, menyanyikan lagu-lagu riang, menghangatkanmu. Sedang hanya ada sebuah buku dan secarik kertas tulisan tanganmu di sini.
Apa arti bulan keenam ini untukku atau untukmu
Hari III
4 Agustus 2009
Tak ada yang kami lakukan pagi hingga siang hari. Kami hanya duduk-duduk menikmati es krim yang telah kami pesan. Rasa manis yang leleh di mulut begitu menenangkan rasanya.
Sekitar pukul 6 sore kami berangkat menuju Bentara Jakarta dengan menaiki transjakarta. Rute busway yang akan kami tempuh adalah Harmoni-Blok M, sebelum mencapai Blok M kami harus berhenti di Plaza lalu pindah lagi ke jurusan Palmerah. Namun, alangkah malangnya, ternyata jurusan Plaza tempat seharusnya kami berhenti telah lewat. Ini dikarenakan nama yang tertera pada papan bukanlah Plaza namun Bundaran Senayan. Sampai di jurusan terakhir di Blok M, kami hanya menganga memandang keramaian, dan orang-orang yang tumpah ruah, mulai dari pedagang, pengamen, pejalan kaki yang entah darimana mau kemana.
Kami sempat mampir ke dalam Blok M, tapi segera saja kami ingat untuk segera melanjutkan perjalanan, karena pukul tujuh telah lewat lima menit yang lalu.
Karena salah jurusan, kami harus menaiki metromini 608, agar sampai ke Bentara. Dengan ongkos seharga 2000 per orang, kami melewati jalanan ibukota menuju Bentara. Untung saja metromini yang ini tidak sesesak mobil serupa di sebelah kiri. Terlihat penumpang berglayutan di sana. Suara krenetnya begitu riuh, belum lagi bunyi mesin yang menunjukkan mesin mobil yang sudah tua. Kemacetan tentu sudah menjadi hal biasa bagi orang-orang itu. Namun bagi saya, hiruk pikuk keadaan macam ini benar-benar tak nyaman. Tapi pemandangan ibu kota yang sesungguhnya ini membuat saya tak mengerdipkan mata sejenak pun. Tiap orang berjuang sekuat tenaga untuk dapat hidup, bergulat dengan nasib masing-masing sambil tetap menumbuhkan harapan yang menyenangkan. Gurat kelelahan hampir ada pada orang-orang yang saya temui, baik di busway maupun di metromini ini. Tentu mereka sudah bekerja keras seharian, dan tak dapat lagi menikmati perjalanan, atau lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi itu seperti saya.
Belum lagi setengah jam mobil berjalan, dua orang pengamen masuk ke dalam. Setelah menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang tidak begitu enak didengar, mereka ngloyor pergi, tentu sebelumnya saya berikan ia selembar ribuan.
Berselang sekitar sepuluh menit kemudian, datang lagi pengamen lainnya. Kali ini suaranya sungguh tak enak didengar. Di kantong tak ada lagi uang ribuan, bahkan recehan pun tak ada. Maka, kali itu teman saya yang bayar. Lalu, seorang anak kecil pincang dimasukkan ke dalam mobil entah oleh siapa. Tanpa ba bi bu, teman saya mengeluarkan selembar ribuan lagi. Saat bus berhenti sesaat, anak itu diambil dibawa keluar. Nah kali ini giliran seorang ibu muda yang menggendong anaknya. Ia mencoba menghibur kami demi sesuap nasi,begitu katanya. Lirik lagunya begitu miris, maka lagi-lagi teman saya menyerahkan uang logam limaratusan, satu-satunya yang tersisa di sakunya. Hm, satu pengamen lagi datang, dan saya maupun teman saya hanya tertunduk malu ketika mereka lewat. Tapi agaknya mereka sudah terbiasa seperti itu. Bahkan, seorang wanita muda yang duduk di depan saya, sama sekali tak memberikan uang pada seniman-seniman jalanan itu.
Untung saja episode ini segera berakhir. Tapi sambil memandang gedung-gedung megah dengan lampu warna warninya yang mewah, saya kembali memikirkan sederet peristiwa tadi. Suasana hiruk pikuk yang baru saja saya rasakan. Hm, inilah sesungguhnya wajah negeri ini.
Sekitar 45 menit, kami sampai di Bentara. Perut saya sudah keroncongan karena sebelum berangkat tidak makan apa-apa. Untung sekali, saat itu tengah makan malam. Saya dan kawan-kawan langsung menuju stand soto yang disediakan.
Setelah itu barulah kami melihat pameran Laksmi, seorang perupa perempuan yang telah dua kali melakukan pameran di Bentara.
Hari II
3 Agustus 2009
Seorang pelancong yang mengunjungi Jakarta hampir selalu tak pernah melewatkan Monas. Monumen ini seakan jadi penanda bahwa mereka pernah menjejakkan kaki di ibukota nusantara. Nah, itulah yang kini terjadi pada saya.
Malam sebelumnya, saya tidur begitu larut, kira-kira jam 2 pagi. Alhasil niat untuk berjalan pagi di seputaran Monas kandas. Akhirnya kurang lebih jam sebelas siang saya dan kawan-kawan bertekad untuk mengunjungi Monas, dengan berjalan kaki saja.
Awalnya, semangat yang tinggi memang membuat kami tidak merasa lelah sedikitpun, namun belum juga sampai di sana, keringat sudah mengucur deras, kaki pun rasanya begitu pegal.
Sedikit gontai tapi masih tetap dengan tekad yang agak kuat, kami melanjutkan lagi hingga sampai di taman yang mengelilingi Monas. Ternyata untuk masuk ke dalamnya, kami harus melewati terowongan bawah tanah yang cukup jauh dari tempat kami berdiri. Sebelum mengetahui hal itu, seorang turis bertanya pada salah seorang teman saya, dimanakah kiranya bias mendapatkan tiket masuk, karena ia salah melihat tanda panah, ia menyarankan si turis lurus saja. Belum sempat kami memberitahu arah yang tepat turis itu telah melenggang jauh. Sedangkan kami hanya senyum-senyum masam saja, merasa bersalah.
Setelah membeli tiket seharga 5500, kami segera memasuki Monas. Kami disambut oleh taman yang dibentuk menyerupai pola-pola batik nusantara. Nah dari pelataran Monas nanti, kita bias melihat dengan jelas ragam bentuk batik-batik ini.
Setelah menyerahkan tiket pada petugas, kami langsung saja menuju pintu gerbang yang dijaga oleh dua orang training yang masih SMA. Namun sebelum masuk, kami melihat-lihat patung dinding (saya tak tahu istilah tepatnya). Di sana terlukis beragam kisah, mulai dari Sumpah Palapa, pendudukan VOC, perang Kemerdekaan, dan lain sebagainya. Sebagaimana layaknya pelancong, kami segera saja mengambil foto di sana, tentu dengan beraneka pose yang menarik dan unik.
Setelah berpuas diri berpose di depan patung dinding itu, kami masuk ke dalam. Hawa sejuk segera saja membuat saya segar kembali. Lantai satu ini merupakan Museum Sejarah. Di sana terdapat 51 diorama yang menggambarkan sejarah RI. Ada pula poster-poster tentang pembangunan Monas yang dirancang oleh Ir. Soedarsono ini. Diorama-diorama tersebut sungguh mempesona. Gambarannya begitu detail, dan terlihat jelas kesungguhan para pembuatnya, ekspresi rakyat kecil, kewibawaan raja-raja, hingga kegagahan para jenderal. Diorama ini terbagi atas 4 bagian.
Ada pula ruang kecil yang terletak di tengah-tengah, di mana di dalamnya terdapat diorama Jakarta, serta tata ruang kota ini. Yang menakjubkan adalah, terdapat rancang kota Jakarta untuk beberapa tahun ke depan. Hm, benar-benar ibu kota ini akan jadi kota metropolitan sejati dengan gedung-gedung megah serta lampu aneka warna yang gemerlap. Tapi entah mengapa saya malah tak enak melihat rancang bangun itu. Dimana rakyat kecil yang biasa saya lihat tinggal di pinggir-pinggir jalan itu akan tinggal? Apakah akan tinggal di gedung-gedung berlantai puluhan itu juga, seperti kalangan elite nusantara?
Hm, kaki saya mulai kembali berulah. Pegalnya sungguh membuat saya tak nyaman. Langsung saja saya menuju bangku-bangku yang tertempel di dinding sambil memijat betis saya. Teman-teman akhirnya berkumpul di tempat ini juga. Lalu kami segera naik menuju lantai berikutnya.
Sampai di pelataran Monas, kami memasuki antrean yang cukup panjang. Ternyata dari pelataran ini kami akan langsung menuju puncak Monas dengan lift. Sambil menunggu, saya puaskan mata saya melihat keluasan pelataran ini. Gedung-gedung tinggi terlihat angkuh, seakan menunjukkan kuasanya atas saya. Langit biru cerah juga tak kalah memperlihatkan keindahannya. Hm, saya hanya bisa bergumam, inilah kebesaran semesta. Nah, di sini pulalah kami melihat turis yang tadi. Dengan senyum pongah yang seakan berkata,”Nah rasain lu, gue duluan ya”, mereka melewati kami.
Sampai di puncak saya terkesima oleh pemandangan ibukota. Terlihat atap-atap rumah yang seakan berserakan begitu saja. Di beberapa bagian, gedung-gedung tinggi seakan mendesak rumah-rumah kecil di sekitarnya. Saya berpikir alangkah indahnya pemandangan ini di malam hari. Ya, indah, indahnya kelengangan yang menakjubkan.
Saya membeli beberapa koin untuk melihat kota lewat teropong. Tapi hanya selama satu setengah menit saja. Dengan lift kami turun ke lantai II. Rencananya kami akan melihat naskah proklamasi di gerbang berukir di lantai bawah, namun jam telah lewat, dan kami tak ingin menunggu hingga 2 jam ke depan. Jadi, kami hanya melihat lambang-lambang negara super besar di dinding. Menurut pemandu training yang tiba-tiba muncul di antara kami, peta kepulauan RI, burung garuda, serta naskah proklamasi tersebut dibuat dengan lempeng emas 22 karat. Hm, mantap juga ya.
Hampir pukul 2, perut sudah lapar, kaki pegal, dan mata juga agak mengantuk. Dengan menaiki bis, kami menuju pasar kecil di Monas. Dalam bis, kami juga dijelaskan mengenai Monas.
Nasi campur seharga 7000 rupiah pun berakhir lekas di perut kami. Lalu, kembali dengan berjalan kaki, kami pulang.
Di tengah jalan, kami masih sempat membeli jeruk hasil menawar habis-habisan. Lalu berfoto-foto dengan latar lalu lintas padat ala ibu kota di atas jembatan penyebrangan sambil beristirahat melemaskan kaki.
Sampai di gedung MK ternyata ada agenda sidang. 2 orang teman saya yang memakai sepatu diperkenankan masuk. Dan sisanya menunggu di bawah teduh pohon pinggir jalan. Tak banyak yang mereka ceritakan tentang suasana sidang itu, mungkin karena sudah sangat lelah.
Ketika melihat istana merdeka, energi kami seakan kembali muncul. Seorang penjaga seakan membolehkan kami masuk tetapi begitu mendekat 2 orang penjaga lain dengan tampak galak menyuruh kami pergi. Takut juga melihat orang-orang berseragam itu. Apalagi pucuk senjata di pundak mereka.
Huah, sampai di tempat menginap, segera saja kami rebah, dan terbangun sore harinya dengan kelaparan yang kembali mendera.
06.21.09
VIII
Apa yang akan terjadi esok hari, belum tentu seperti yang kita inginkan. Berulang datang kabar, berkali-kali tak sesuai harapan.
Dari sisian jalan, kusaksikan bulan menggantung sebagian di atas atap gedung kuning tua. Mungkin kau tengah duduk di dalamnya, memandangi ratusan halaman penuh angka, memutar-mutar pensil, lalu sesekali menyelipkannya di mulut, dan kau pun kembali mencermati tulisan – tulisan di depanmu. Mungkin juga kau tengah melirik jam tanganmu untuk yang kesekian kali, berharap waktu berlalu dan segera dapat kau habiskan malam dengan kupu-kupumu yang menunggu di sudut lengang kamarmu.
Dari sisian jalan, kusaksikan pagi pelan-pelan menggantikan malam, cahaya pucat matahari pukul 6 menyembul di timur seakan tak sabar menampakkan kuasanya. Kulihat gedung kuning tua itu lagi. Mungkin nanti kau akan kembali duduk di sana, dengan sisa senyum yang seharian setelah beraneka urusan yang melelahkan. Namun, kesenangan tentulah selalu menunggumu entah di mana. Mungkin seorang kawan akan menghubungi tepat pukul 10 nanti, mengajakmu menyusuri jalanan di utara, sambil menikmati minuman hangat toko 24 jam. Atau sekadar duduk-duduk di emperannya memandangi kendaraan yang lalu lalang tak pernah berhenti. Mungkin juga kau memilih pulang saja, berbaring puas di atas ranjangmu, mencermati beragam benda di sana. Botol-botol kosong di atas lemari, buku-buku yang belum habis kaubaca, atau memejamkan mata sambil mendengar lagu-lagu pengantar tidurmu.
Dari sini, dari ruang kamar kecilku, kubiarkan bayangmu lepas bebas menemaniku.
VII
Jika ia tak datang padaku, mungkin hariku tetap seperti selembar kertas yang tak juga ditulisi. Tapi tak dapat kuberikan apa yang boleh jadi ia harapkan. Meski berulang kali ia berkata, hanya ingin menyaksikan kebahagiaan memancar di sudut remang ini.
Tiap kali pagi kurasakan sebagai ketidakpastian yang lain, lagi-lagi ia datang dengan senyum riang, tulus menawarkan kehangatan. Tapi aku tak menginginkan bintang yang berpijar terang, melainkan sinar temaram bulan yang telah lama tak datang.
Jika kubaringkan tubuhku, lalu dengan tenang kurasakan tiupan angin di kamarku, maka kau seakan duduk di sampingku, menyanyikan sesuatu, entah apa itu, lagu pengantar tidur yang sendu, atau melodi dari masa lalumu. Tapi nyatanya, hanya suaranya di ujung sana, yang merangkulku dari lamunan semacam itu, seperti biasa.
Lalu aku melihatmu, bersandar di dinding itu, seperti pejalan yang lelah tapi masih punya ribuan alasan untuk melanjutkan langkah.


